Kini Kita Bernegara Tanpa Ideologi

Avatar

Rabu, 18 Maret 2026 - 05:08

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Yudhie Haryono
CEO Nusantara Centre

 

Jatimaktual.com, Jakarta – “Begitu seorang presiden mulai berpikir tentang pertumbuhan ekonomi, hampir tidak mungkin baginya untuk memikirkan hal lain (Robert Lucas/1995).” Inikah yang terjadi 25 tahun kita bereformasi? Mari kita cek satu-satu.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Alih-alih meningkat rasa memiliki terhadap negara, tahun demi tahun justru menurun drastis. 10 tahun terakhir kita melihat gejala terbentuknya negara swasta yang secara serius melakukan program swastanisasi, prifatisasi, deregulasi dan de-ideologisasi.

Ini memang resep ajaib mahzab neoliberal penyembah pasar, sehingga anti negara sejahtera, anti warga-negara sentosa. Mahzab ini menempatkan “ujaran pertumbuhan” sebagai kunci utama tegaknya pemikiran tersebut. Lalu, apa yang terjadi berikutnya?

Praktis pemerintahan baru tidak berniat menyelesaikan satupun problema yang menimpa rakyat miskin: penggusuran rumah, alih kepemilikan tanah, penyiksaan dan pengusiran dari teritori hunian. Negara juga lambat hadir saat bencana alam, badai PHK, pelemahan hukum dan konflik horisontal antar warga-aparat-konglomerat.

BACA JUGA :  Daulat Rupiah adalah Daulat Negara

Saat bersamaan, pemerintah melakukan inefisiensi dan biaya tinggi dalam pengelolaan keuangan. Negara kurang konsisten dalam layanan publik sehingga defisit, yang lucunya secara bertahap mencekik warga-negara dengan pajak yang meninggi untuk menutup defisit anggaran tersebut.

Akibatnya, akuntabilitas dan transparasi anggarannya sangat berkurang, bahkan terkesan menipu. Karenanya KKN bukannya dihabis, ia justru makin mentradisi di semua lini. KKN yang mentradisi mengakibatkan ketimpangan dan keburukan fasilitas serta aksesnya. Layanan yang disediakan oleh negara menjadi tidak dapat diakses oleh semua warga-negara, terutama mereka yang kurang mampu, sehingga dapat memperlebar kesenjangan sosial.

Lebih dalam dari itu semua, negara swasta membuat prioritas keuntungan dengan timpang bahkan salah sasaran. Perusahaan besar, konglomerasi, oligarki, asing, aseng dan asong lebih diprioritaskan keuntungannya daripada kepentingan publik, sehingga mengabaikan kebutuhan dan kesejahteraan seluruh warga-negara.

BACA JUGA :  Ancaman BOP pada Ekopol Nasional

Negara swasta lahir secara perkasa dan meraksasa karena para aparatusnya mengalami rabun ideologi negara (de-ideologisasi). Mereka melupakan tujuan, konsensus, konstitusi dan sejarah berdirinya negara kita. Padahal fungsi ideologi negara itu sangat vital.

Secara teoritik, ideologi negara berfungsi untuk memandu kebijakan pemerintahan. Ia sumber hukum, rujukan akselerasi. Ideologi negara menjadi landasan bagi pembuatan kebijakan publik dan keputusan politik yang solid, mengakar pada tradisi dan jati diri serta mental nasional.

Ia juga befungsi sebagai perekat hubungan sosial antar semua warga-negara. Ideologi negara selalu menjadi perekat sosial yang mempersatukan dan meningkatkan kesadaran akan identitas nasional. Ia melampaui (beyond) suku, ras dan agama yang plural untuk membentuk identitas nasional.

BACA JUGA :  Lima Takdir Lima Kesejatian

Saat bersamaan ia berfungsi sebagai pengarah pembangunan nasional. Dengannya kita mampu menentukan prioritas dan tujuan pembangunan: model, modul dan modalnya. Setelah itu, ia berguna untuk membentuk nilai kebangsaan dan norma kenegaraan. Tentu akan terjadi saling mempengaruhi perilaku dan sikap warga negara agar terjadi hibridasi.

Singkatnya, ideologi negara dapat menjadi sumber legitimasi kekuasaan pemerintah, sehingga meningkatkan kepercayaan dan rasa kepemilikan warga-negara terhadap pemerintah. Tak bisa dipungkiri, ideologi negara memainkan peran penting dalam membentuk identitas nasional, memandu kebijakan serta mempengaruhi perilaku warga-negara sambil membuat “naiknya kedaulatan dan kemartabatan negara” di level dunia.

Tanpa menghadirkan ideologi pancasila dalam bernegara, praksis kita sedang memproduksi terlalu banyak pejabat-penjahat yang tidak berguna, sambil menghasilkan terlalu banyak undang-undang yang tidak berfungsi bagi kita semua.***

Follow WhatsApp Channel jatimaktual.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Antri Tiga Jam di Bandara Houston dan Macetnya Politik Amerika Serikat
Strategi Transformasi Logistik Nasional 2027 : Integrasi KAI Logistik dan Moda Trucking
Walaupun AS dan Iran Bersatu Ciptakan Krisis, Petro Dollar Tetap Harus Berakhir
Top Up Ekonomi Daerah, Uang MBG Rp732 Miliar per Bulan Mengalir ke NTB
Bamsoet : Pertemuan Presiden Prabowo dan Megawati Soekarnoputri Bawa Pesan Kuat Rekonsiliasi Nasional di Hari Raya Idul Fitri
Bamsoet Apresiasi Kesigapan TNI dan Polri Tangani Kasus Andrie Yunus
Akankah Kita Menemukan Soemitronomics?
Catatan Politik Bamsoet : Jujur Kepada Presiden Demi Rumusan Keputusan Yang Arief dan Bijaksana

Berita Terkait

Minggu, 29 Maret 2026 - 10:45

Antri Tiga Jam di Bandara Houston dan Macetnya Politik Amerika Serikat

Sabtu, 28 Maret 2026 - 14:54

Strategi Transformasi Logistik Nasional 2027 : Integrasi KAI Logistik dan Moda Trucking

Sabtu, 28 Maret 2026 - 08:03

Walaupun AS dan Iran Bersatu Ciptakan Krisis, Petro Dollar Tetap Harus Berakhir

Kamis, 26 Maret 2026 - 15:40

Top Up Ekonomi Daerah, Uang MBG Rp732 Miliar per Bulan Mengalir ke NTB

Sabtu, 21 Maret 2026 - 22:19

Bamsoet : Pertemuan Presiden Prabowo dan Megawati Soekarnoputri Bawa Pesan Kuat Rekonsiliasi Nasional di Hari Raya Idul Fitri

Berita Terbaru