Jatim Aktual, Pamekasan – Polemik menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) di SMK Negeri 3 Pamekasan mendadak viral dan menyita perhatian publik. Pasalnya, menu yang dibagikan kepada siswa disebut-sebut tidak sesuai standar gizi, sehingga memicu kritik dan sorotan tajam di media sosial.
Menanggapi kegaduhan tersebut, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pamekasan Jungcangcang 2 dari dapur Garuda Jaya Abadi akhirnya angkat bicara dan meluruskan informasi yang beredar.
Kepala SPPG Pamekasan Jungcangcang 2 Garuda Jaya Abadi, Achmad Maulana, menegaskan bahwa penggunaan menu biskuit malkis bukan keputusan sepihak dari pihak dapur, melainkan atas permintaan pihak sekolah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menyebut, sebelumnya menu telur justru menimbulkan keluhan karena tidak dimakan oleh siswa.
“Kenapa menggunakan malkis bukan telur, itu berdasarkan permintaan dari pihak sekolah. Sebelumnya ada komplain bahwa telur tidak dimakan, bahkan diinjak-injak dan dilempar,” ungkapnya, Selasa (17/2/2026).
Pernyataan tersebut sontak menjadi perhatian, karena menggambarkan kondisi di lapangan yang jauh berbeda dari dugaan publik selama ini.
Diduga Diunggah Oknum Guru, Menu MBG Kembali Jadi Bahan Viral
Achmad Maulana juga menyampaikan bahwa menu tersebut awalnya tidak menjadi persoalan besar di internal sekolah. Namun, masalah mulai melebar setelah menu MBG tersebut diunggah oleh seorang oknum guru hingga menjadi konsumsi publik.
“Kami sudah bertemu dengan oknum guru tersebut. Yang kami sayangkan, kenapa masih diviralkan kembali, sementara sekolah tidak mempermasalahkan,” tegasnya.
Ia menilai tindakan tersebut memicu kegaduhan yang seharusnya tidak perlu terjadi jika dikomunikasikan secara langsung.
Mitra Dapur: Tabayyun Saja, Dapur Terbuka 24 Jam!
Sementara itu, mitra SPPG Pamekasan Jungcangcang 2, Renaldi Setiawan Susanto, menilai polemik ini seharusnya dapat diselesaikan melalui komunikasi yang terbuka, bukan melalui viral-viralan.
Ia menegaskan pihak dapur siap memberikan klarifikasi kapan saja.
“Bagi kami sederhana, monggo tabayyun dan klarifikasi. Dapur kami terbuka 24 jam untuk menjelaskan terkait menu yang disajikan,” katanya.
Ahli Gizi Akui Malkis Tak Ideal, Tapi Telur Tak Dimakan Siswa Jadi Pertimbangan
Di sisi lain, ahli gizi SPPG Pamekasan Jungcangcang 2, Ika Satria Bela, mengakui bahwa penggunaan malkis memang tidak ideal jika dilihat dari standar gizi program MBG.
Namun, ia menekankan keputusan itu merupakan hasil kesepakatan dengan pihak sekolah demi efektivitas konsumsi siswa.
“Secara standar gizi, penggunaan malkis memang tidak sesuai. Tapi itu atas permintaan sekolah. Kalau telur diberikan tapi tidak dimakan, gizinya juga tidak masuk ke tubuh siswa,” jelasnya.
SPPG Harap Polemik Tak Ganggu Program MBG
SPPG berharap persoalan tersebut tidak terus diperbesar, dan semua pihak dapat mengedepankan dialog agar program MBG tetap berjalan maksimal.
Pihak SPPG juga menegaskan komitmennya untuk tetap menjalankan program pemenuhan gizi siswa sesuai tujuan pemerintah.
Program MBG, menurut mereka, harus dijaga bersama agar tidak gagal hanya karena kesalahpahaman komunikasi di lapangan.











