Jatim Aktual, Bondowoso – Transformasi digital yang dipicu oleh perkembangan Artificial Intelligence (AI) mendorong Dewan Pendidikan Bondowoso memperluas jejaring internasional. Melalui kolaborasi bersama Universiti Sains Islam Malaysia, digelar International Students Collaborative Service Program bertema “Human Capacity Development in the Age of Artificial Intelligence: Ethical, Creative, and Technological Integration.”
Kegiatan tersebut bukan hanya forum akademik biasa, melainkan ruang refleksi bersama untuk memastikan kemajuan teknologi tetap berjalan selaras dengan nilai kemanusiaan. Ketua Dewan Pendidikan Bondowoso, Dr. Suheri, M.Pd.I, menilai era AI menuntut kesiapan generasi muda yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga matang secara moral.
“Kolaborasi ini menjadi langkah konkret untuk memastikan generasi muda kita tidak tertinggal dalam arus teknologi global, namun tetap memiliki landasan etika yang kuat,” ujarnya, Jumat (13/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, pengembangan sumber daya manusia di era AI harus menempatkan manusia sebagai subjek utama, bukan sekadar pengguna teknologi.
“Human capacity development berarti membangun kemampuan berpikir kritis, karakter, dan tanggung jawab sosial agar mahasiswa mampu memanfaatkan AI secara produktif dan bijak,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan kolaboratif lintas negara membuka ruang pertukaran gagasan dan pengalaman yang memperkaya perspektif mahasiswa.
“Mahasiswa harus mampu mengintegrasikan nilai etika, kreativitas, dan teknologi dalam menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Senior Lecturer Universiti Sains Islam Malaysia, Dr. Hanum Misbah, menyoroti perubahan besar yang dibawa oleh kecerdasan buatan generatif (GenAI) dalam sistem pendidikan tinggi.
“GenAI bukan sekadar alat, tetapi agen perubahan dalam pengajaran, pembelajaran, dan penilaian akademik. Namun penggunaannya mesti berasaskan prinsip etika yang jelas,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa tanpa pengawasan dan kesadaran kritis, penggunaan AI dapat melemahkan daya pikir mahasiswa.
“Apabila pelajar terlalu bergantung kepada AI, mereka berisiko kehilangan kedalaman pemikiran dan analisis. AI harus menjadi rakan kongsi, bukan pengganti pemikiran manusia,” tegasnya.
Dr. Hanum juga menekankan pentingnya literasi AI sebagai kompetensi dasar di perguruan tinggi.
“Mahasiswa perlu memahami batasan AI, potensi bias, serta pentingnya verifikasi maklumat. Tanpa literasi yang kuat, teknologi boleh disalah guna,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa peran pendidik tetap tak tergantikan di tengah kemajuan teknologi.
“Mentor manusia membawa empati, bimbingan moral, dan pemikiran kritis yang tidak dapat diganti oleh mesin,” tambahnya.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi fondasi penguatan pendidikan di Bondowoso agar mampu melahirkan generasi adaptif, berintegritas, dan berdaya saing global di tengah dinamika revolusi kecerdasan buatan.











