Efesiensi Semu Dan Amputasi Demokrasi

Gmnstiar R.

Sabtu, 24 Januari 2026 - 17:03

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Hedi Firmansyah (Presiden Mahasiswa Universitas Nurul Jadid Probolinggo)

Jatim Aktual, Nasional — Di saat air mata duka belum kering menyelimuti berbagai daerah pascabencana, dan para guru honorer dipaksa bertahan hidup dengan upah yang bahkan lebih rendah dari pencuci piring program Makan Bergizi Gratis (MBG), elite politik justru sibuk mempertontonkan krisis empati yang telanjang.

Alih-alih menghadirkan solusi atas problem mendasar bangsa, wacana yang digulirkan justru pengembalian pemilihan kepala daerah (Pilkada) ke tangan DPRD. Dengan dalih “efisiensi anggaran” dan “meredam chaos politik”, kedaulatan rakyat kembali dipertaruhkan atas nama stabilitas semu.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tapi tunggu dulu jangan tertipu. Mari kita pakai Akal Sehat.

Menyalahkan rakyat untuk membenarkan penghapusan Pilkada langsung adalah bentuk gaslighting politik cara licik elite menutupi kegagalannya sendiri. Ketika biaya politik dianggap mahal dan demokrasi dituding sebagai sumber kekacauan, rakyat dijadikan kambing hitam atas sistem yang justru rusak oleh elite itu sendiri.

BACA JUGA :  Dedikasi Tak Kenal Lelah, Wartawan Babel Jejaring KBO Babel Dianugerahi Penghargaan Tertinggi PJS

Secara psikologis, ini merupakan mekanisme pertahanan (defense mechanism). Kegagalan elite dialihkan melalui projection, yakni dengan menuduh rakyat sebagai sumber masalah. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa mahalnya biaya politik bukan akibat pilihan rakyat, melainkan akibat lemahnya kaderisasi partai, buramnya transparansi pendanaan, serta suburnya praktik mahar politik di internal elite. Secara akademis, argumen ini merupakan logical fallacy, cacat logika.

Perlu ditegaskan, rakyat tidak pernah sepenuhnya bebas dalam memilih. Mereka dipaksa masuk ke dalam struktur politik yang mahal, tertutup, dan transaksional. Menyalahkan rakyat dalam situasi semacam ini sama artinya dengan menyalahkan korban, sementara aktor utama perusak sistem justru lolos dari tanggung jawab moral dan politik.

Wacana pengembalian Pilkada ke DPRD bukan sekadar perubahan teknis mekanisme pemilihan. Ia adalah langkah mundur demokrasi sekaligus pengkhianatan terhadap semangat Reformasi 1998. Reformasi lahir untuk memastikan setiap suara rakyat memiliki nilai politik, bukan untuk mengembalikan kekuasaan ke ruang-ruang tertutup yang hanya dapat diakses segelintir elite.

BACA JUGA :  Hebat! SPPG Humairoh Sejahtera Miliki Sertifikat Penjamah Makanan dan SLHS

Narasi “biaya politik mahal” kembali dijadikan pembalut pembenaran. Padahal, berbagai riset menunjukkan bahwa mahalnya politik bukan disebabkan oleh pemilihan langsung, melainkan oleh “Kegagalan partai membangun kaderisasi yang sehat, transparansi pendanaan, dan etika politik. Ketika elite gagal membenahi sistem yang mereka kuasai, rakyat kembali dijadikan kambing hitam. Jika yang diklaim adalah efisiensi dan pemberantasan politik uang, maka solusi semestinya diarahkan pada reformasi sistem pembenahan pendanaan partai yang akuntabel, kaderisasi berbasis merit, penegakan hukum pemilu yang tegas, serta keterbukaan data dana kampanye bukan dengan memangkas demokrasi. Efisiensi sejati lahir dari pengawasan publik, bukan dari penghilangan partisipasi rakyat.

Justru harus diakui secara jujur, membeli suara segelintir elite di ruang tertutup jauh lebih mudah dibandingkan meyakinkan jutaan rakyat di ruang terbuka. Risiko korupsi tidak akan hilang, ia hanya berpindah tempat menjadi lebih gelap, lebih senyap, dan semakin sulit diawasi.

BACA JUGA :  Transformasi Pendidikan Melalui Benchmarking: Langkah Strategis IAI At Taqwa ke Thursina IIBS dan BBGP Jatim

Dalam demokrasi, partisipasi rakyat adalah sumber utama legitimasi kekuasaan. Ketika partisipasi justru dianggap sebagai masalah, di situlah kita memahami bahwa yang sesungguhnya terjadi adalah ketakutan elite terhadap pengawasan publik.

Demokrasi memang tidak murah. Namun harga kebebasan dan kedaulatan rakyat jauh lebih mahal dan tidak ternilai.

Hari ini mungkin Pilkada yang dirampas. Esok, bisa jadi hak-hak lain dicabut secara perlahan. Ketika sistem semacam ini dilegalkan, rakyat terutama generasi muda secara sistematis dikeluarkan dari ruang kekuasaan. Rakyat direduksi menjadi penonton, sementara kekuasaan diperdagangkan di ruang-ruang tertutup elite, Ini bukan efisiensi.

Ini adalah cara halus mengamputasi demokrasi dan kedaulatan rakyat secara sistematis.

Demokrasi tidak di bunuh dengan kudeta, Ia di habisi pelan-pelan melalui penindasan yang di balut rapi oleh sebuah kebijakan.

Follow WhatsApp Channel jatimaktual.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tembus Pasar Global, BARON Grup Siapkan Ekspedisi Rokok Asia–Australia
Persiapan Pemerintah Jelang Idul Fitri
Khofifah Siap Ajukan KEK Tembakau Madura ke Pemerintah Pusat, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Madura
Absennya Gubernur Sulsel di Pelantikan KNPI Versi Fadel Perkuat Isu Dukungan ke Kubu Vonny Ameliani Suardi
Relawan Prabowo – Gibran Kawal Asta Cita di Sungai Aur, Soroti Hak Plasma Masyarakat Adat
Forum Kebangsaan Pimpinan MPR–DPR 1999–2024 Dorong Penguatan Civil Society dan Sinkronisasi Kerja Kabinet
Surat Gus Lilur Direspon Presiden, Menteri KKP Terbitkan Permen KP No. 5 Tahun 2026
Ansari Salurkan Zakat Mal dan Mushaf Al-Qur’an untuk Anak Yatim di Panti Asuhan Muhammadiyah Pamekasan

Berita Terkait

Rabu, 11 Maret 2026 - 13:12

Tembus Pasar Global, BARON Grup Siapkan Ekspedisi Rokok Asia–Australia

Selasa, 10 Maret 2026 - 16:03

Khofifah Siap Ajukan KEK Tembakau Madura ke Pemerintah Pusat, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Madura

Senin, 9 Maret 2026 - 21:03

Absennya Gubernur Sulsel di Pelantikan KNPI Versi Fadel Perkuat Isu Dukungan ke Kubu Vonny Ameliani Suardi

Senin, 9 Maret 2026 - 18:39

Relawan Prabowo – Gibran Kawal Asta Cita di Sungai Aur, Soroti Hak Plasma Masyarakat Adat

Senin, 9 Maret 2026 - 17:27

Forum Kebangsaan Pimpinan MPR–DPR 1999–2024 Dorong Penguatan Civil Society dan Sinkronisasi Kerja Kabinet

Berita Terbaru