Pemulihan Ekonomi Lamban, Bukti Neoliberalisme Ketahuan Busuk

Avatar

Jumat, 16 Januari 2026 - 13:37

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jatimaktual.com, Jakarta – Pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahwa pemulihan ekonomi nasional tidak secepat yang diperkirakan telah memicu kegaduhan di kalangan tertentu. Padahal, apa yang ia sampaikan merupakan langkah politik paling jujur dan paling bertanggung jawab dalam lanskap ekonomi kontemporer.

Ketegasan semacam ini mencerminkan pemahaman yang jauh dari optimismisme semu tradisi neoliberalisme; ini adalah pengakuan atas realitas dan komitmen untuk memperbaiki struktur ekonomi bangsa dari akar.

Namun, keberanian ini justru memicu reaksi panik dari kelompok neolib. Mereka yang selama puluhan tahun mengagung-agungkan liberalisasi tanpa batas, deregulasi sepihak, dan dominasi modal asing kini mencoba menggiring narasi publik agar pesimis terhadap arah kebijakan pemerintah.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Purbaya dan Keberanian Meluruskan Arah

Dalam konteks pembangunan ekonomi, Purbaya berada di garis depan reformasi struktural: penataan ulang kebijakan fiskal, penguatan disiplin anggaran, serta penegakan aturan yang memprioritaskan kemandirian dan kesejahteraan rakyat. Dengan demikian, pengakuan bahwa pemulihan ekonomi membutuhkan waktu bukanlah bentuk pasrah pada stagnasi, melainkan keputusan strategis untuk menjaga stabilitas jangka panjang dan tidak terus menerus terseret oleh ekspektasi semu pasar.

BACA JUGA :  Indonesia Minus Akhlak - Etika "Personal - Sosial - Semesta"

Panik Neolib dan Sabotase Sistematis

Kelompok neolib tampak gelisah karena rezim ekonomi berbasis rente yang mereka nikmati mulai runtuh. Serangan mereka terstruktur melalui:

Menciptakan opini pesimistis tentang pertumbuhan ekonomi untuk menekan sentimen publik.

Menggembosi keberhasilan aturan pengetatan fiskal sebagai rezim yang ‘anti-pertumbuhan’.

Menyerang kebijakan industrialisasi seolah negara harus tunduk pada impor dan liberalisasi tanpa kontrol.

Menebarkan narasi chaos fiskal untuk memaksa pemerintah kembali mengadopsi resep lama yang gagal.

Ini adalah bukan sekadar debat ekonomi teknis; ini adalah upaya sabotase terhadap kebijakan nasional yang ingin mengubah tatanan lama demi kedaulatan ekonomi bangsa.

Mandat Politik Presiden

Posisi Purbaya bukanlah semata pilihan teknokratis; ia adalah bagian dari implementasi visi Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan kedaulatan ekonomi sebagai pilar utama dalam pembangunan nasional. Dalam pidato kenegaraan 15 Agustus 2025, Presiden Prabowo menegaskan arah fundamental pembangunan ekonomi dengan referensi konstitusional yang tegas:

“Ketika kita tidak konsekuen menjalankan Undang-Undang Dasar kita, terjadilah distorsi ekonomi … perekonomian nasional diselenggarakan berdasarkan demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian … dan ketika kita konsekuen menjalankan Undang-Undang Dasar kita … kita dapat mencapai berbagai kemajuan yang cukup berarti.”

BACA JUGA :  Kata Bijak Nur Faisal DPD KNPI Jatim Soal Pengawasan APBN

Keberpihakan ini jelas menegaskan bahwa arah kebijakan fiskal dan pembangunan ekonomi yang tengah ditempuh bukanlah pilihan pragmatis semata, tetapi literal implementasi dari mandat ideologis bangsa sesuai amanat konstitusi.

Menghadapi Sabotase Neoliberalisme

Neoliberalisme telah gagal menjadikan pertumbuhan yang inklusif. Selama lebih dari dua dekade, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak pernah berjalan seiring dengan pemerataan kesejahteraan. Distribusi kekayaan tetap timpang, sementara ketergantungan pada modal asing dan jaringan rente terus memperlemah daya saing nasional.

Kebijakan fiskal saat ini mencoba mematahkan pola ini dengan memperkuat pondasi produksi nasional, disiplin anggaran, dan kedaulatan ekonomi—bukan sekadar memperbesar angka pertumbuhan makro.
Oleh karena itu, serangan terhadap Purbaya bukan kritik kebijakan biasa, melainkan bagian dari upaya mempertahankan status quo neolib, yang selama ini lebih menguntungkan kelompok tertentu daripada rakyat banyak.

BACA JUGA :  Dakwah Sebagai Proses Pemanusiaan Manusia

Mengamankan Arah Baru

Indonesia tidak dapat lagi tunduk pada narasi dan kepentingan neoliberalisme yang terbukti gagal menyejahterakan rakyat. Kebijakan Purbaya adalah lanjutan dari komitmen ideologis Presiden Prabowo untuk memulihkan kedaulatan ekonomi, yang secara eksplisit dirumuskan dalam pidato kenegaraan dan dirancang agar selaras dengan amanat konstitusi. Serangan yang dilancarkan aktor neolib harus disikapi bukan sebagai opini biasa, tetapi sebagai pertarungan ideologis yang harus dijawab secara politik, intelektual, dan strategi kebijakan yang tegas.

Indonesia perlu kedaulatan ekonomi, pemerataan kekayaan, dan kebijakan yang berpihak pada rakyat, bukan narasi yang terus mempertahankan ketergantungan struktural. Dan dalam konteks itu, keberanian Purbaya — didukung oleh mandat konstitusional presiden — harus dikawal, bukan disabotase.

Neoliberalisme telah menjadikan bangsa ini pasar tanpa kedaulatan. Karena itu, tidak ada ruang untuk kompromi: ia harus dihancurkan sampai ke akar-akarnya demi memastikan ekonomi Indonesia kembali bekerja untuk rakyat, bukan untuk jaringan rente dan modal asing.***

Follow WhatsApp Channel jatimaktual.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Teater Pemberantasan Korupsi : Mengapa Skor Korupsi Indonesia Mandek
Hadiri Wisuda Sarjana Universitas Indonesia, Bamsoet Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Mampu Lampaui Target
PB HMI Dorong Redesain Aturan Subsidi LPG 3 Kg, Tepat Sasaran dan Berbasis Digital
Analisis Sistem Politik Indonesia dan AS: Dalam Perspektif Teori Sistem Politik David Easton dan Struktur Fungsional Gabriel Almond
Menimbang Formasi Ideal Kepemimpinan PBNU; Rois Aam KH Said Aqil Siroj dan Ketua Umum KH Zulfa Mustofa
Antara Kamu, Rempah dan Indonesia
Mengubur Mental Kolonial
Rekonstruksi Pemikiran Prabowo dan Tantangan Ke Depan

Berita Terkait

Senin, 16 Februari 2026 - 17:32

Teater Pemberantasan Korupsi : Mengapa Skor Korupsi Indonesia Mandek

Minggu, 15 Februari 2026 - 09:35

Hadiri Wisuda Sarjana Universitas Indonesia, Bamsoet Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Mampu Lampaui Target

Minggu, 15 Februari 2026 - 09:21

PB HMI Dorong Redesain Aturan Subsidi LPG 3 Kg, Tepat Sasaran dan Berbasis Digital

Sabtu, 14 Februari 2026 - 09:59

Analisis Sistem Politik Indonesia dan AS: Dalam Perspektif Teori Sistem Politik David Easton dan Struktur Fungsional Gabriel Almond

Jumat, 13 Februari 2026 - 14:03

Menimbang Formasi Ideal Kepemimpinan PBNU; Rois Aam KH Said Aqil Siroj dan Ketua Umum KH Zulfa Mustofa

Berita Terbaru