Bahasa Ibu di Ambang: Saat Bahasa Indonesia Baku Terus Menguat

Avatar

Senin, 12 Januari 2026 - 07:08

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jatim Aktual, Opini – Pagi itu saya duduk di beranda rumah, mendengar anak-anak tetangga bermain. Mereka bercakap dengan bahasa Indonesia yang rapi, sesekali diselipi kata-kata Jawa, tapi jelas bukan bahasa ibu yang mendominasi. Fenomena seperti ini rasanya semakin biasa kita temui, bukan hanya di kota besar, tetapi juga di desa-desa. Bahasa ibu yang dulu hidup di ruang keluarga dan lingkungan sekitar, kini perlahan tersisih oleh bahasa Indonesia baku yang dianggap lebih “aman” dan “pantas” digunakan di ruang publik.

Fakta ini bukan sekadar kesan pribadi. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mencatat bahwa puluhan bahasa daerah di Indonesia berada dalam kondisi terancam. Bahkan, menurut data pemerintah dan laporan Ethnologue, sejumlah bahasa daerah sudah dinyatakan punah karena tidak lagi memiliki penutur aktif. Ini adalah alarm sosial yang sering luput dari perhatian kita sehari-hari. Kita merayakan keberhasilan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu, tetapi jarang berhenti sejenak untuk bertanya: apa yang sedang kita korbankan?

Dalam kajian kebahasaan, para ahli menyebut kondisi ini sebagai pergeseran bahasa. Sederhananya, ini terjadi ketika sebuah komunitas secara perlahan meninggalkan bahasa ibunya dan beralih ke bahasa lain yang dianggap lebih bergengsi atau lebih berguna. Pergeseran ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia tumbuh pelan-pelan, dipengaruhi pendidikan formal, media massa, hingga tuntutan sosial-ekonomi. Ketika satu bahasa memberi lebih banyak “keuntungan”, bahasa lain perlahan tersingkir tanpa perlawanan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

BACA JUGA :  Realitas Pahit 19 Juta Lapangan Pekerjaan

Di Indonesia, bahasa Indonesia baku memiliki posisi yang sangat kuat. Ia menjadi bahasa pendidikan, administrasi, media nasional, dan simbol kemajuan. Hampir seluruh warga Indonesia memahaminya, bahkan banyak anak yang kini lebih fasih berbahasa Indonesia daripada bahasa ibu orang tuanya sendiri. Bahasa ibu yang seharusnya menjadi bahasa pertama, perlahan berubah menjadi bahasa sekunder, bahkan asing di telinga generasi muda.

Saya sering melihat bagaimana ini terjadi. Orang tua memilih berbicara bahasa Indonesia kepada anaknya agar dianggap modern dan berpendidikan. Di sekolah, bahasa daerah hanya hadir sebentar sebagai muatan lokal. Di media sosial, bahasa ibu jarang mendapat ruang karena dianggap tidak “kekinian”. Akibatnya, bahasa Indonesia baku tidak hanya menjadi bahasa pemersatu, tetapi juga tanpa sadar menjadi bahasa yang “mengalahkan” bahasa ibu.

BACA JUGA :  Wakil Bupati Bondowoso Dorong Sinergi dan Tata Kelola Profesional di Musorkab KONI

Fenomena ini tentu tidak sepenuhnya salah. Ada sisi positif yang patut kita akui. Bahasa Indonesia yang kuat memudahkan komunikasi lintas daerah, memperkuat identitas nasional, dan membuka akses pendidikan serta pekerjaan. Bahkan, pengakuan internasional terhadap bahasa Indonesia menjadi kebanggaan tersendiri. Namun, di balik itu, muncul kekhawatiran yang tidak bisa diabaikan yakni, ketika bahasa ibu ditinggalkan, kita tidak hanya kehilangan alat komunikasi, tetapi juga kehilangan cara pandang, nilai, dan sejarah yang tersimpan di dalamnya.

Bahasa ibu menyimpan cerita rakyat, petuah orang tua, dan emosi yang sering kali tidak bisa diterjemahkan secara utuh ke dalam bahasa lain. Ketika bahasa itu hilang, yang punah bukan hanya kata-kata, tetapi juga ingatan kolektif sebuah komunitas. Kita menjadi bangsa yang seragam dalam bahasa, tetapi miskin dalam keberagaman suara.

Karena itu, menjaga bahasa ibu bukan berarti melemahkan bahasa Indonesia. Keduanya bisa berjalan berdampingan. Langkah konkret bisa dimulai dari hal sederhana seperti membiasakan penggunaan bahasa ibu di rumah, memberi ruang yang lebih serius dalam pendidikan, dan menghadirkan bahasa daerah dalam media digital dengan cara yang kreatif dan relevan bagi generasi muda. Pemerintah, sekolah, dan komunitas lokal perlu bergerak bersama, bukan sekadar membuat regulasi, tetapi membangun kebanggaan.

BACA JUGA :  Mengapa Harus GERD (Gastroesophageal Reflux Disaese)?

Jika bahasa Indonesia baku terus menguat tanpa diimbangi perlindungan bahasa ibu, dampaknya akan terasa dalam jangka panjang. Kita mungkin tetap mampu berbicara dengan lancar, tetapi kehilangan kedalaman budaya yang membuat Indonesia begitu kaya. Bahasa ibu yang luntur berarti identitas yang memudar, dan itu adalah kehilangan yang tidak bisa digantikan oleh bahasa nasional sekuat apa pun.

Indonesia dibangun dari banyak suara, bukan satu nada. Menjaga bahasa Indonesia adalah kewajiban, tetapi merawat bahasa ibu adalah tanggung jawab moral. Jika keduanya bisa hidup berdampingan, kita tidak hanya menjadi bangsa yang bersatu, tetapi juga bangsa yang tetap berakar.

Penulis. Indi Zulfa Rahmika, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas KH. Mukhtar Syafaat.

Follow WhatsApp Channel jatimaktual.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Buku “Prabowo: Politik Akal Sehat Tanpa Panggung”, Bamsoet Tegaskan Politik Akal Sehat Kunci Stabilitas dan Rekonsiliasi Bangsa
Insan Pers Selalu Merdeka Dan Berdaulat 
Uang : Tuhan Berwujud Benda
Bamsoet Luncurkan Buku “Prabowo: Politik Akal Sehat Tanpa Panggung”
Rokok Rakyat dan Konglomerat dalam Paradoks Kebijakan Cukai
INKONSISTENSI & POTENSIAL COUNFLICK INTEREST TERHADAP  PASAL 100 UNDANG-UNDANG NO 1 TAHUN 2023
Bangun Kolaborasi Strategis, SMA Muhammadiyah 10 Gresik dan Fakultas Psikologi UMM Perkuat Layanan BK dan Pendidikan Karakter
SMA Muhammadiyah 10 GKB Gresik Teken MoU dengan Politeknik Negeri Malang Dukung Karier Lulusan
Tag :

Berita Terkait

Senin, 16 Februari 2026 - 14:46

Buku “Prabowo: Politik Akal Sehat Tanpa Panggung”, Bamsoet Tegaskan Politik Akal Sehat Kunci Stabilitas dan Rekonsiliasi Bangsa

Senin, 9 Februari 2026 - 18:39

Insan Pers Selalu Merdeka Dan Berdaulat 

Sabtu, 7 Februari 2026 - 14:00

Uang : Tuhan Berwujud Benda

Rabu, 4 Februari 2026 - 14:27

Bamsoet Luncurkan Buku “Prabowo: Politik Akal Sehat Tanpa Panggung”

Senin, 2 Februari 2026 - 14:27

Rokok Rakyat dan Konglomerat dalam Paradoks Kebijakan Cukai

Berita Terbaru