Jatim Aktual, Opini – Bahasa Indonesia telah lama menjadi simbol persatuan dan identitas bangsa. Bahasa ini menyatukan lebih dari 17 ribu pulau dan ratusan suku dengan beragam bahasa daerah yang berbeda. Namun di era digital seperti sekarang, eksistensi Bahasa Indonesia menghadapi tantangan serius yang perlu segera ditanggapi bersama.
Salah satu permasalahan terbaru yang semakin tampak adalah penurunan etika berbahasa di media digital. Penggunaan Bahasa Indonesia yang kurang tepat, mulai dari kesalahan ejaan hingga struktur kalimat yang tidak baku, kini banyak ditemukan di media online dan platform media sosial. Menurut pengamatan Badan Bahasa Kemdikbud, banyak konten daring yang beredar justru belum melalui proses penyuntingan yang matang, karena tuntutan kecepatan penyebaran informasi. Akibatnya, kesalahan bahasa seperti penggunaan tanda baca yang kurang tepat atau pilihan kata yang tidak sesuai standar masih sering muncul di ruang publik digital.
Fenomena ini bukan tanpa dampak. Kajian ilmiah menunjukkan bahwa etika berbahasa Indonesia yang buruk di media sosial berpengaruh pada cara komunikasi individu, terutama generasi muda. Banyaknya singkatan, kesalahan struktur kalimat, dan penggunaan istilah asing secara berlebihan berpotensi menyebabkan kesalahpahaman dan melemahnya kemampuan berbahasa secara formal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, generasi muda saat ini kerap merasa lebih nyaman menggunakan bahasa campuran atau slang dalam percakapan sehari-hari. Penelitian menunjukkan bahwa dominasi bahasa asing di konten digital dan persepsi bahwa bahasa asing lebih modern menjadi faktor yang membuat Bahasa Indonesia sering “terpinggirkan” dalam penggunaan sehari-hari.
Namun, masalah ini seharusnya menjadi panggilan bersama bagi masyarakat, khususnya generasi muda dan para pendidik. Bahasa Indonesia bukan hanya alat komunikasi; ia adalah simbol identitas nasional yang memperkuat jiwa kebangsaan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan telah menegaskan pentingnya disiplin kolektif dalam penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bagian dari komitmen kebangsaan.
Menghadapi tantangan ini bukan hanya tugas pemerintah atau pendidik saja, tetapi juga kita semua sebagai pengguna bahasa aktif. Mahasiswa, pelajar, penulis, dan konten kreator memiliki peran penting untuk mengangkat penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar terutama di era digital yang penuh dengan informasi cepat dan tren linguistik baru.
Jika kita tidak mulai dari sekarang, bukan tidak mungkin Bahasa Indonesia akan semakin tergerus oleh arus globalisasi dan digitalisasi. Kita perlu bangun budaya literasi bahasa yang kuat dimulai dari cara kita menulis caption media sosial, berdiskusi online, hingga menyusun karya ilmiah.
Mari kita jadikan Bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi sehari-hari, tetapi warisan budaya yang terus dijaga, dikembangkan, dan dibanggakan oleh generasi masa depan.











