Jatim Aktual, Gresik – Waktu terus berjalan. Jarum jam seakan bergerak lebih cepat di area pit lomba International Islamic School Robot Olympiad (IISRO) 2025. Di hadapan meja dengan pola labirin di atasnya dan komponen robot yang bergerak mengikuti jalur, enam anak berseragam SD Muhammadiyah GKB (Mugeb) Gresik menatap arena pertandingan dengan fokus penuh. Mereka tahu, hanya satu jam tiga puluh menit yang dimiliki untuk membuktikan hasil latihan berbulan-bulan.
Ketegangan itu mencapai puncaknya pada Jumat (24/12/2025) di Auditorium 2 Kampus 3 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Semarang. Saat nama sekolah mereka akhirnya disebut sebagai juara tiga di dua kategori, sorak sorai pun pecah. Pelukan spontan, senyum lega, dan mata berbinar menjadi saksi bahwa perjuangan 1,5 jam itu tidak sia-sia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ajang IISRO 2025 yang berlangsung selama tiga hari, 22–24 Desember 2025, mempertemukan siswa-siswa terbaik dari sekolah Islam berbagai daerah. Mengusung tema “Together in Faith and Achievement”, kompetisi ini tidak hanya menguji kecerdasan logika dan kemampuan teknis, tetapi juga ketenangan, kejujuran, dan karakter peserta.
*Dua Tim, Dua Tantangan*
Mugeb Gresik mengirimkan dua tim dari ekstrakurikuler Robotik Bina Prestasi di bawah pendampingan pembina Muchamad Rahmadhony.
Tim Maze Solving First Step diperkuat oleh Bimo Arsenio Raditya, Arkan Naufal Assajid, dan Arrasy Zaidan Hernawan. Sementara kategori Robot Gathering First Step U12 diwakili oleh Athaillah Adam Ar Rayyan, Arliyandra Kenzie Alkhalifi, dan Muhammad Alvaro Alviandra.
Di kategori Robot Gathering, waktu menjadi tantangan terbesar. Robot harus mampu mengambil objek dan meletakkannya secara presisi di titik yang telah ditentukan.
“Selesainya sangat mepet. Kami hanya punya waktu satu jam tiga puluh menit untuk memprogram robotnya,” kenang salah satu anggota tim.
Suasana di area lomba begitu menegangkan, namun anak-anak itu bertahan hingga detik terakhir.
Sementara itu, kategori Maze Solving menuntut konsistensi dan ketepatan. Robot harus menavigasi labirin dan menabrak target tertentu secepat mungkin. Kesalahan kecil bisa berakibat fatal. Namun tim Mugeb tampil stabil hingga akhir.
*Latihan Panjang dan Doa yang Menyertai*
Perjalanan menuju panggung juara tidak terjadi dalam semalam. Sejak Oktober 2025, anak-anak ini telah memulai riset dan latihan dasar. Memasuki November, intensitas latihan meningkat. Setiap hari mereka belajar memprogram, merangkai komponen, menemukan kesalahan, lalu mencoba kembali—berulang kali.
Di balik itu, doa dan dukungan orang tua tak pernah terputus. Dari tribun atas auditorium, para orang tua setia mendampingi, menyemangati, sekaligus mengingatkan anak-anak agar tetap tenang dan fokus.
“Saya sudah terbiasa mengoperasikan komputer di rumah karena ayah dan kakak juga menyukai ilmu komputer,” tutur Bimo Arsenio Raditya, Ketua Tim Maze Solving.
Kedekatannya dengan dunia teknologi sejak dini membuatnya lebih percaya diri saat berlomba.
*Usaha yang Terbayar*
Ketika pengumuman juara dibacakan, nama SD Muhammadiyah GKB Gresik kembali menggema—dua kali. Mugeb meraih juara tiga di dua kategori. Auditorium pun bergemuruh. Usaha panjang yang dirintis selama berbulan-bulan akhirnya terbayar lunas.
“Alhamdulillah, anak-anak berhasil meraih juara pada kesempatan pertama mereka mengikuti kompetisi robotik,” ungkap Muchamad Rahmadhony.
Ia berharap capaian ini menjadi pemantik semangat untuk terus berlatih dan mempersiapkan diri menghadapi ajang yang lebih besar.
Usai turun dari panggung, semangat para siswa justru semakin menyala. Dengan mata berbinar, mereka menyampaikan kesiapan untuk melangkah lebih jauh, mengikuti kompetisi robotika berikutnya yang direncanakan akan digelar di Malaysia tahun depan.
Bagi Mugeb, kemenangan ini bukan sekadar medali dan piala. Ini adalah pelajaran tentang ketekunan, kerja sama, dan keyakinan. Bahwa dalam waktu 1,5 jam yang menegangkan, ilmu, logika, dan doa dapat berpadu—mengantarkan anak-anak sekolah dasar melangkah percaya diri di panggung robotika internasional. (*)










