Jatim Aktual, Bondowoso — Program makan bergizi gratis yang digulirkan pemerintah mulai menunjukkan dampak nyata di tingkat akar rumput. Tidak hanya memastikan kesehatan anak bangsa, program ini juga menggerakkan ekonomi pedesaan melalui penyerapan hasil ternak lokal.
Syamsul Arifin, salah satu suplier telur untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Grujugan Kidul, Bondowoso, mengaku merasakan langsung manfaat program tersebut. Ia menyebut pasar telur kini lebih stabil dan pembelian berlangsung secara rutin.
Menurut dia, program makan bergizi gratis bukan sekadar memberi makan anak-anak, tetapi juga menghidupkan dapur-dapur peternak di desa. “Telur kami kini pasti terserap. Ada kebanggaan tersendiri bisa ikut memenuhi gizi generasi penerus,” ujar Syamsul saat dikonfirmasi wartawan (30/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Syamsul menuturkan, sebelum adanya program ini peternak kerap was-was karena hasil panen telur tidak selalu laku, dan harga mudah merosot. Situasi itu sering membuat peternak kecil merugi dan kesulitan menjaga keberlanjutan ternak mereka.
“Dulu kami khawatir telur tidak laku atau harganya jatuh. Sekarang dengan adanya program ini, ada kepastian pasar dan harga yang layak. Ekonomi di desa pun ikut bergerak,” katanya.
Ia menegaskan bahwa peternak lokal siap mendukung penuh kebutuhan suplai pangan bergizi untuk dapur-dapur SPPG. Menurutnya, ternak yang sehat menjadi kunci penyediaan pangan berkualitas bagi anak-anak yang menerima layanan.
“Kami siap mendukung. Peternak sejahtera, Indonesia maju,” ucapnya. Ia menambahkan bahwa keberlanjutan program ini akan memperkuat mata rantai produksi pangan dari desa ke dapur layanan gizi.
Untuk kebutuhan SPPG Grujugan Kidul, Syamsul memasok sekitar 132 kilogram telur setiap periode pengiriman. Ia menyebut waktu pengiriman menyesuaikan permintaan pengelola dan bersifat fleksibel.
“Biasanya seminggu dua kali masuk telur. Semua telur yang kami kirim langsung dari kandang ayam, segar dan siap diolah,” jelasnya.
Selain menguntungkan peternak, program makan bergizi gratis juga berdampak besar pada kesehatan anak. Makanan yang disediakan diharapkan mampu menekan angka stunting, gizi buruk, dan anemia pada kelompok rentan.
Program ini juga diyakini dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Anak-anak yang mendapatkan asupan bergizi cenderung lebih sehat, lebih fokus saat belajar, dan memiliki ketahanan fisik yang lebih baik.
Lebih jauh, peningkatan status gizi turut menentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Anak yang tumbuh sehat dan cerdas menjadi fondasi penting bagi kemajuan bangsa.
Syamsul berharap program makan bergizi gratis terus diperkuat dan melibatkan lebih banyak pelaku usaha pangan lokal. Menurutnya, keberpihakan pada peternak desa akan menciptakan ekosistem pangan yang mandiri, sejahtera, dan berkelanjutan.











