Jakarta – Anggota Komisi VI DPR RI, Rivqy Abdul Halim (PKB), menyampaikan dukungan penuh atas keputusan Bank Mandiri untuk melaksanakan pembelian kembali (buyback) saham perseroan. Menurut Rivqy, langkah tersebut dinilai tepat dalam menjaga stabilitas harga saham bank pelat merah tersebut.
“Menurut saya itu hal yang tepat, dan menjaga stabilitas harga saham,” ujar Rivqy dalam keterangannya hari Minggu (2/11/2025).
Rivqy menegaskan bahwa aksi buyback yang akan dilakukan Bank Mandiri bukanlah hal yang baru dalam industri perbankan. Ia mengemukakan bahwa “aksi perseroan yang dilakukan Bank Mandiri juga sering dilakukan oleh perbankan lain sebelumnya.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, Rivqy juga memberikan apresiasi terhadap kinerja Bank Mandiri secara operasional. Ia menilai bahwa Bank Mandiri saat ini sudah berada “on the track” dan menunjukkan pertumbuhan yang semakin baik. Bank Mandiri, menurutnya, juga menjadi bank BUMN yang paling cepat dalam menyerap dana pemerintah untuk penyaluran kredit.
Rivqy berharap agar Bank Mandiri dapat melaksanakan buyback ini secara hati-hati dan transparan, dengan tetap memperhatikan kondisi likuiditas, kecukupan modal, serta regulasi yang berlaku. Ia juga menyatakan bahwa DPR akan terus memantau agar aksi korporasi ini dapat berjalan selaras dengan mandat publik dan kepentingan pemegang saham serta masyarakat.
Dengan performa yang telah ditunjukkan hingga kuartal III 2025 dan dukungan DPR, Bank Mandiri diharapkan tidak hanya menjaga stabilitas saham tetapi juga memperkuat kontribusinya terhadap intermediasi perbankan nasional dan perekonomian secara umum.
Bank Mandiri dalam keterbukaan informasi menyebutkan bahwa perseroan akan melakukan pembelian kembali saham (“buyback”) dengan nilai maksimum sebesar Rp 1,17 triliun.
Rencana ini telah mendapatkan persetujuan pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang digelar pada 25 Maret 2025, dan periode pelaksanaan buyback diperhitungkan berlangsung dari 26 Maret 2025 hingga paling lambat 25 Maret 2026.
Dalam laporan kuartal III 2025, Bank Mandiri menyampaikan bahwa kinerja keuangan mereka tetap solid di tengah fluktuasi ekonomi global:
Laba bersih September 2025 naik 1,84 % secara bulanan menjadi Rp 4,14 triliun. Kontribusi pendapatan non-bunga (fee-based income) kini mencapai 32 % dari total pendapatan.
Penyaluran kredit dan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) tercatat masing-masing sebesar Rp 1.764 triliun dan Rp 1.884 triliun per September 2025. Rasio kredit bermasalah (NPL) hanya 1,03 % per September 2025, jauh di bawah rata-rata industri.
Bank Mandiri menjelaskan bahwa buyback tersebut dilakukan sebagai sinyal kepercayaan manajemen terhadap fundamental perusahaan dan prospek jangka panjangnya. Selain menjaga stabilitas saham, saham hasil buyback nantinya juga dapat digunakan untuk program Employee Stock Ownership Program (ESOP) bagi pegawai.











