Jihad Santri dan Peran Pesantren di Era Modern

Gmnstiar R.

Jumat, 24 Oktober 2025 - 19:28

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dr. Suheri, M.Pd.I

(Rektor IAI At-Taqwa Bondowoso)

Makna hari Santri

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hari Santri adalah hari kebangkitan jiwa perjuangan, keikhlasan, dan cinta tanah air yang berakar dalam nilai-nilai keislaman.

Santri bukan sekadar identitas kultural, tetapi simbol perlawanan moral terhadap kebodohan, ketertinggalan, dan penjajahan.

Kita mengenang para ulama dan santri yang pada 22 Oktober 1945 menyerukan Resolusi Jihad seruan suci untuk mempertahankan kemerdekaan dan martabat bangsa.

Dari pesantren dan surau kecil, berkumandang takbir perjuangan: “Jihad fi sabilillah untuk kemerdekaan dan kehormatan Islam dan Indonesia.” Hari Santri bukan hanya tentang sejarah masa lalu, tetapi tentang semangat yang terus menyala.

Semangat untuk berjuang di setiap zaman dengan bentuk jihad yang berbeda, namun ruh yang sama — ikhlas karena Allah.

Pesan Pada Santri

Jihad santri itu dinamis. Santri harus menegakkan kebenaran, membela keadilan, dan menebar ilmu.

Pertama, jihad fisik.

Ini adalah jihad para santri pejuang kemerdekaan. Mereka turun ke medan perang dengan doa para kiai, dengan tekad bahwa mati syahid adalah kemuliaan tertinggi.

BACA JUGA :  Meriah, Harlah ke-70 Pesantren Maqnaul Ulum Hadirkan Rangkaian Festival hingga Resepsi Puncak

Perjuangan mereka bukan karena ambisi dunia, tapi karena cinta tanah air sebagai bagian dari iman.

Kedua, jihad ilmu.

Setelah kemerdekaan diraih, para santri kembali ke pesantren. Mereka membuka kitab, menyalakan pelita ilmu, dan membangun peradaban.

Sebagaimana firman Allah:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Bagi santri, pena lebih tajam daripada pedang, dan ilmu menjadi senjata untuk menegakkan kebenaran.

Ketiga, jihad digital.

Kini medan jihad berpindah ke dunia maya. Santri harus hadir di sana — menyebarkan kebenaran, menolak hoaks, menjaga akhlak, dan menebar nilai Islam di ruang digital.

Setiap tulisan yang mencerahkan adalah jihad. Setiap klik yang jujur adalah ibadah.

Santri digital adalah mujahid zaman modern.

Keempat, jihad ekonomi.

Santri masa kini juga berjuang dalam bidang ekonomi. Dengan tangan sendiri mereka membangun usaha, memberdayakan masyarakat, dan menggerakkan ekonomi umat.

BACA JUGA :  Masyarakat Kangean Menang: PT KEI & Camat Arjasa Setujui Penghentian Rencana Pertambangan Migas

Kelima, jihad akhlak dan hati.

Inilah jihad yang paling berat — jihad melawan hawa nafsu.

Rasulullah ﷺ bersabda: Kita baru kembali dari jihad kecil menuju jihad besar, yaitu jihad melawan hawa nafsu

Santri sejati menjaga hati dari sombong, lisan dari dusta, dan amal dari riya. Dari hati yang bersih lahir ilmu yang berkah, dan dari jiwa yang tulus lahir amal yang ikhlas.

PESAN PADA PESANTREN

Peran pesantren di era modern sangat penting. Pesantren kini memikul dua amanah besar: menjaga warisan klasik dan menjawab tantangan zaman.

Pesantren harus mampu mengawal kurikulum agar tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman, namun juga adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kurikulum pesantren tidak boleh sekadar menambah pelajaran umum, tetapi harus mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dengan sains dan kehidupan modern. Santri belajar teknologi dengan adab, belajar ekonomi dengan kejujuran, belajar kepemimpinan dengan amanah.

BACA JUGA :  Bullshit dengan Kemapanan

Pesantren hari ini menjadi laboratorium peradaban, tempat bertemunya ilmu agama dan ilmu dunia, tempat tumbuhnya generasi yang cerdas secara intelektual dan bersih secara moral. Pesantren menjaga akar tradisi sambil menumbuhkan cabang kemajuan.

Banyak pesantren kini mengembangkan kurikulum integratif: menggabungkan kitab kuning dengan STEM, mengajarkan kewirausahaan berbasis syariah, dan membentuk santri digitalpreneur yang tetap berjiwa zuhud dan ikhlas. Dengan demikian, pesantren menjadi benteng moral dan pusat inovasi peradaban.

Harapan dalam HSN

Hari Santri harus menjadi momentum untuk meneguhkan niat, memperkuat perjuangan, dan memperluas manfaat.

  • Santri bukan hanya pembaca kitab, tapi penulis sejarah.
  • Santri bukan hanya penjaga masjid, tapi penjaga moral bangsa.
  • Santri bukan hanya pejuang masa lalu, tapi pemimpin masa depan.
  • Maka bekerjalah dengan iman, berjihadlah dengan ilmu, dan berkaryalah dengan akhlak.

Dari pesantren, lahir peradaban.Dari santri, tumbuh kemajuan. Dari ilmu, lahir kemerdekaan sejati. Dirgahayu Hari Santri Nasional! Santri Siaga Jiwa Raga, Santri Hebat, Indonesia Bermartabat!

Penulis : Dr. Suheri, S.Pd.I, M.Pd.I

Follow WhatsApp Channel jatimaktual.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bangun Kolaborasi Strategis, SMA Muhammadiyah 10 Gresik dan Fakultas Psikologi UMM Perkuat Layanan BK dan Pendidikan Karakter
SMA Muhammadiyah 10 GKB Gresik Teken MoU dengan Politeknik Negeri Malang Dukung Karier Lulusan
Bahasa Indonesia di Persimpangan Zaman: Antara Identitas, Gengsi, dan Tantangan Global
Pembangkangan Konstitusi: Kudeta Sunyi atas Kedaulatan Rakyat
Madas di Persimpangan Etika: Darsam dan Batas Keberanian yang Hilang
Penyebab Utama Banjir di Tahun 2026: Peran Lingkungan dan Kesadaran Manusia
Bahasa Ibu di Ambang: Saat Bahasa Indonesia Baku Terus Menguat
Bahasa Indonesia di Era Digital: Antara Identitas dan Tantangan Zaman

Berita Terkait

Sabtu, 17 Januari 2026 - 15:01

Bangun Kolaborasi Strategis, SMA Muhammadiyah 10 Gresik dan Fakultas Psikologi UMM Perkuat Layanan BK dan Pendidikan Karakter

Sabtu, 17 Januari 2026 - 14:46

SMA Muhammadiyah 10 GKB Gresik Teken MoU dengan Politeknik Negeri Malang Dukung Karier Lulusan

Selasa, 13 Januari 2026 - 15:35

Bahasa Indonesia di Persimpangan Zaman: Antara Identitas, Gengsi, dan Tantangan Global

Selasa, 13 Januari 2026 - 15:00

Pembangkangan Konstitusi: Kudeta Sunyi atas Kedaulatan Rakyat

Selasa, 13 Januari 2026 - 14:57

Madas di Persimpangan Etika: Darsam dan Batas Keberanian yang Hilang

Berita Terbaru

Religi

Potret Momen Bersejarah

Selasa, 20 Jan 2026 - 05:34

Pendidikan

Mempelajari Ideologi Liberalisme

Senin, 19 Jan 2026 - 08:53