Jatim Aktual, Pamekasan – Acara Jalan Santai Kemerdekaan RI ke-80 yang rencananya digelar di Kecamatan Waru, Pamekasan, pada Sabtu, 6 September 2025, mendadak jadi sorotan tajam. Bukan karena kemeriahannya, tetapi lantaran pamflet acara yang beredar justru memicu kontroversi.
Pasalnya, foto Kapolsek Waru AKP Edi Sugiantoro dan Danramil Waru terpampang jelas di pamflet, seolah-olah memberi dukungan penuh. Namun yang bikin heboh, di pamflet tersebut juga tertulis ketentuan pembelian air mineral dengan harga Rp10.000 – jauh di atas harga pasaran yang hanya Rp3.000 hingga Rp5.000.
Alasan panitia? Setiap pembelian air disebut-sebut akan mendapatkan kupon undian. Tapi bagi sebagian warga, ini justru dinilai sebagai modus bisnis berkedok acara kemerdekaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ini Acara Kemerdekaan, Bukan Ajang Cari Untung!” Salah satu tokoh pemuda Pantura, Yadi Yanto tak bisa menahan kecewa.
“Acara peringatan kemerdekaan bukan untuk cari untung! Harga air mineral normalnya Rp3.000–Rp5.000, kok dijual Rp10.000 dengan embel-embel kupon? Ini jelas melanggar perlindungan konsumen dan HET!” tegasnya kepada media.
Ia bahkan mengancam akan menggelar aksi turun jalan jika panitia tetap memaksakan aturan ini.
“Kalau mau lanjut, gratiskan saja airnya. Jangan ada unsur tipu-tipu!” tambahnya.
Kapolsek Angkat Bicara, Panitia Ditegur, Camat Bungkam!
Kapolsek Waru AKP Edi Sugiantoro saat dikonfirmasi langsung membantah terlibat dalam kebijakan harga air tersebut.
Soal harga air, pihaknya tidak tahu. bahkan sudah menegur panitia. Camat Waru juga sudah dihubungi pihak Polsek tetapi belum ada respons.
“Sdh saya tegur panitianya.”
“Betul mas camat sy bel tdk d angkat” respon Kapolsek via WhatsApp.
Sementara itu, Disperindag Kabupaten Pamekasan juga belum memberikan pernyataan resmi terkait dugaan pelanggaran HET ini.
Aroma Gelombang Aksi Kian Tercium
Kabar yang dihimpun, isu ini memicu kemarahan sejumlah warga. Tak menutup kemungkinan akan terjadi gelombang aksi protes besar-besaran jika masalah ini tidak segera diselesaikan.
Acara jalan santai yang seharusnya menjadi momentum kebersamaan, kini justru terancam berubah menjadi ajang kontroversi dan pertaruhan wibawa pemerintah daerah.
Pertanyaannya, apakah panitia akan mengubah kebijakan? Ataukah protes warga akan benar-benar pecah? Tunggu update selanjutnya!











