Oleh: Dr. Abdul Wasik, M.HI
(Pengurus RMI NU Jawa Timur & Dosen Institut Agama Islam (IAI) At Taqwa Bondowoso)
Jatim Aktual, Karya Tulis Beberapa waktu lalu, publik dikejutkan oleh kabar viral dari Demak, Jawa Tengah. Seorang guru Madrasah Diniyah (Madin) diduga memukul santrinya sebagai bentuk teguran. Namun, kasus ini tidak berhenti sebagai persoalan internal lembaga, tetapi melebar menjadi tuntutan Rp 25 juta oleh wali murid dan perdebatan publik yang panas. Banyak yang mengutuk sang guru. Tapi sedikit yang bertanya: apa yang sebenarnya terjadi?, dan ke mana arah pendidikan agama hari ini?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai seseorang yang lama hidup di lingkungan pesantren, izinkan saya menceritakan kisah nyata. Saat saya masih nyantri di sebuah pesantren besar di Jawa Timur, menjadi saksi terhadap sembilan santri yang melanggar aturan. Mereka mengikuti kegiatan kemahasiswaan di luar pesantren tanpa izin. Hasilnya? Mereka dihukum berdiri di depan kampus selama tujuh hari penuh. Tak hanya itu, ada pula teguran fisik simbolik dari pengasuh. Namun, tidak ada yang marah. Tidak ada yang melapor polisi. Tidak ada yang menuntut uang damai. Yang ada hanya air mata, keikhlasan, dan penerimaan. Kini, sembilan santri itu telah menjadi tokoh di masyarakat. Ada yang menjadi pengasuh pesantren, beberapa menjadi wakil rakyat sebagai anggota dewan di daerahnya, dan satu di antaranya telah menjadi guru besar di salah satu perguruan tinggi ternama di Jawa Timur.
Apa yang membedakan dua kisah ini—antara seorang guru ngaji yang dituntut dan seorang pengasuh yang pernah menghukum? Jawabannya ada pada niat, adab, dan kepercayaan dalam pendidikan.
Dalam tradisi Islam, pendidikan bukan sekadar menyampaikan pengetahuan. Ia adalah jalan membentuk karakter, ruhani, dan moralitas. Guru ngaji—baik di madin, TPQ, maupun pesantren—bukan sekadar pengajar, tapi orang tua ruhani. Mereka tak digaji besar, tapi memberi cinta dan doa tanpa batasan.
Teguran dari guru, bahkan yang keras sekalipun, seringkali bukan karena benci. Tapi karena cinta. Sayangnya, di era media sosial hari ini, satu teguran bisa diviralkan, divonis tanpa klarifikasi, dan diadili tanpa proses keadilan adil. Padahal, keberhasilan murid tidak hanya bergantung pada kecerdasan, tapi pada kesabaran menerima didikan dan kerendahan hati menghormati guru.
Renungan Untuk Semuanya
Untuk para santri hari ini, jangan jadikan kenyamanan sebagai ukuran kebenaran. Tidak semua yang keras itu menyakitkan. Terkadang, bentakan itu justru doa dalam bentuk lain. Pukulan itu adalah kasih sayang dalam wujud yang tidak disukai nafsu. Lihatlah sembilan santri tadi. Dari proses yang berat, mereka tumbuh menjadi pemimpin. Sebab keberhasilan bukan dibentuk dari pujian, tetapi dari ujian.
Wali murid adalah bagian dari ekosistem pendidikan. Jangan ubah sekolah atau madin menjadi tempat tuntutan. Guru ngaji bukan karyawan layanan pelanggan. Mereka bukan manusia sempurna, tapi niat mereka mulia. Jika ada teguran, datangilah dengan adab. Bukan dengan somasi. Ingat, tak ada gaji duniawi yang cukup membayar guru ngaji. Mereka digaji oleh langit, bukan oleh negara.
Kepada para guru ngaji, jangan lelah. Meski gaji tak sebanding, dan hukum tak selalu berpihak, percayalah: kalian sedang menanam generasi. Tapi di era ini, pendekatan juga harus berubah. Teguran tetap perlu, tapi dengan hikmah. Hati-hati dengan dunia yang cepat merekam, cepat menghakimi.
Negara harus hadir. Jangan hanya berbicara moderasi beragama dan pendidikan karakter tanpa menyentuh akar: kesejahteraan dan perlindungan hukum bagi guru madin dan guru ngaji. Mereka adalah benteng moral bangsa. Namun sayangnya, nasib mereka sering tak terdengar. Padahal, dari lidah mereka, anak-anak mengenal ilmu pengetahuan dan sebagai benteng masa depan bangsa.
Pendidikan Adalah Amanah, Bukan Barang Dagangan
Islam mengajarkan bahwa ilmu adalah cahaya, dan guru adalah lentera yang menuntun menuju cahaya itu. Dalam tradisi keilmuan Islam, adab mendahului ilmu. Imam Malik pernah menegaskan kepada muridnya: “Pelajarilah adab sebelum ilmu.” Sebab, tanpa adab, ilmu kehilangan keberkahannya. Seorang murid yang tak menghormati gurunya, sejatinya sedang menutup pintu keberhasilan. Maka dalam banyak kisah ulama, keberhasilan mereka bukan hanya karena kecerdasan, tetapi karena kerendahan hati dan penghormatan mendalam kepada guru-gurunya.
Etika belajar dalam Islam juga meletakkan tanggung jawab besar pada keluarga. Orang tua tidak hanya bertugas menyekolahkan anak, tapi juga mendampingi dan membimbingnya dalam menuntut ilmu. Ketika anak dididik untuk menghargai guru, maka terbentuklah generasi yang santun, tahan uji, dan berkarakter kuat. Sebaliknya, bila orang tua menanamkan sikap menggugat atas teguran, maka anak akan tumbuh menjadi pribadi rapuh yang mudah menyalahkan orang lain. Ini bukan hanya merusak masa depan anak, tapi juga masa depan bangsa.
Negara yang besar adalah negara yang menghormati para pendidiknya. Jika guru dimuliakan, maka ilmu akan bermartabat. Jika pendidikan dijaga marwahnya, maka masyarakat akan hidup dalam kedamaian dan kemajuan. Ketika hubungan antara guru, murid, orang tua, dan negara dijalani dengan amanah dan adab, maka lahirlah generasi yang kuat secara spiritual, intelektual, dan sosial. Inilah yang akan membawa bangsa menuju kehidupan yang sentosa—bukan karena banyaknya teknologi, tetapi karena dalamnya moralitas dan kokohnya karakter anak bangsa.











