Jatim Aktual, Bondowoso – Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di Institut Agama Islam (IAI) At-Taqwa Bondowoso bukan sekadar tugas akademik, tapi merupakan amanat ruhani yang menghubungkan langit dan bumi. Pesan tersebut disampaikan oleh Ketua Yayasan At-Taqwa, Drs. KH. Abah mam Barmawi Burhan, dalam sambutannya pada acara Opening Ceremony Workshop Mahasiswa PPL Tahun 2025, yang diselenggarakan pada Rabu (16/07/2025) di aula kampus.
Mengawali pesannya, Drs. KH. Abah Imam Barmawi Burhan menegaskan bahwa esensi PPL bukan semata soal metode, kurikulum, atau media pembelajaran. “Lebih penting dari media adalah strategi. Lebih penting dari strategi adalah guru. Dan lebih penting dari guru adalah ruh sang guru itu sendiri,” tegas beliau, seraya menekankan bahwa keberhasilan pendidikan bergantung pada keikhlasan dan kematangan spiritual seorang pendidik.
Dalam konteks itu, PPL menjadi momen bagi mahasiswa untuk mempraktikkan ilmu dalam ranah kehidupan nyata, sekaligus menunaikan tanggung jawab ilahiyah sebagai penyampai nilai, bukan hanya pengajar materi. “Mahasiswa harus menjaga nilai-nilai kontrak langit—sebuah ikatan batin dan spiritual antara dirinya dengan Allah SWT dalam tugas mulia mencerdaskan umat,” lanjutnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia juga mengingatkan bahwa pembentukan karakter peserta didik tak cukup dengan teknologi atau metode canggih, melainkan melalui sentuhan jiwa pendidik yang hidup. “Ruh itulah yang menghidupkan ilmu. Ketulusan dan akhlak guru akan lebih membekas daripada ribuan slide PowerPoint,” ujarnya penuh makna.
Sementara itu, Rektor IAI At-Taqwa Bondowoso, Dr. Suheri, S.Pd.I, M.Pd.I, turut menyampaikan bahwa PPL adalah wahana pengabdian, tempat mahasiswa membuktikan bahwa ilmu yang diperoleh tidak hanya bersifat kognitif, tapi juga transformatif. “Yang diuji bukan hanya kompetensi mengajar, tapi juga kepribadian, kesungguhan, dan keteladanan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa selama PPL, mahasiswa membawa nama lembaga dan citra Islam. Oleh karena itu, setiap perilaku harus mencerminkan nilai adab, akhlak, dan keikhlasan. “Lisanul hal afshahu min lisanil maqāl – bahasa sikap lebih fasih daripada bahasa lisan,” kutipnya.
Kegiatan workshop ini diawali dengan shalat dhuha dan istighotsah bersama di musholla kampus, sebagai bentuk spiritualisasi langkah sebelum terjun ke medan pengabdian. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi pembekalan oleh para pemateri, dan berlangsung hingga pukul 15.00 WIB.
Menutup acara, Drs. KH. Abah Imam Barmawi Burhan kembali menegaskan bahwa tugas utama mahasiswa bukan hanya mengajar, tetapi membawa keberkahan, menjadi cahaya di tengah masyarakat. “Pendidikan adalah kerja peradaban. Jadilah guru yang bukan sekadar hadir di kelas, tapi hadir dalam hati,” pungkasnya dengan penuh keteduhan.
Penulis : Rifky Gimnastiar
Editor : Rifky Gimnastiar
Sumber Berita : IAI At-Taqwa Bondowoso











