Oleh : Rifky Gimnastiar
(Pegiat Literasi Kabupaten Bondowoso)
“Sosialisme tidak dapat eksis tanpa perubahan kesadaran yang menghasilkan sikap persaudaraan baru: kita perangi kemiskinan, tetapi kita perangi juga alienasi.”
(Che Guevara, Interview with Jean Daniels, 1964)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Che Guevara, lebih dari sekadar ikon revolusi bertitle bintang merah, ia adalah seorang intelektualis yang menggugat bukan hanya kepada sistem ekonomi kapitalisme, tetapi juga cara manusia memaknai hidup dan hubungannya dengan sesama. Dalam quote di atas, ia tidak sekadar menyerukan penghapusan kemiskinan sebagai tujuan sosialisme, ia menegaskan perlunya revolusi kesadaran yang berprinsip pada nilai-nilai kemanusiaan yang baru.
Che Guevara memaknai sosialisme tidak semata-mata dijalankan lewat kebijakan ekonomi. Sosialisme harus menjadi transformasi moral dan spiritual manusia. Ia menolak gagasan bahwa hanya dengan mengatur ulang kepemilikan alat produksi, dunia akan menjadi lebih adil. Bagi Che Guevara, keadilan sosial memerlukan kelahiran manusia baru yang mampu melihat orang lain bukan sebagai alat, pesaing, atau statistik ekonomi, tetapi sebagai saudara dalam perjuangan.
Alienasi, istilah yang dipinjam dari Karl Marx, tidak hanya terjadi ketika buruh terpisah dari hasil kerjanya, tetapi juga saat manusia kehilangan makna dalam relasi sosial, terperangkap dalam egoisme dan keterasingan eksistensial. Maka, perjuangan melawan alienasi menjadi perjuangan melawan bentuk-bentuk dehumanisasi modern yang lebih halus tapi mematikan: individualisme, ketidakpedulian, dan relasi sosial yang impersonal.
Dalam hal ini, sosialisme bagi Che Guevara adalah projek etis. Ia menuntut keberanian bukan hanya untuk memegang senjata melawan penindasan, tetapi juga untuk menanggalkan egoisme dan menggantinya dengan cinta radikal kepada sesama. Bagi Che Guevara Revolusi adalah tindakan cinta tertinggi, bukan kebencian yang membabi buta.
Maka, tidak heran jika Che Guevara pernah berkata, “Seorang revolusioner sejati dipandu oleh perasaan cinta yang mendalam.” Tanpa cinta, sosialisme kehilangan jiwanya. Tanpa perubahan kesadaran, ia akan menjadi sistem tanpa ruh, menggantikan kapitalisme hanya untuk menciptakan birokrasi baru yang tak kalah alienatif.
“Jika anda memiliki kemampuan untuk gemetar karena marah setiap kali ketidakadilan terjadi didunia, maka kita adalah kawan” ~Che Guevara
Dengan demikian, ayat kiri ini bukan hanya diartikan dalam pengertian ideologis, tetapi juga dalam pengertian spiritualitas. Ia menyerukan penghapusan kemiskinan dan pembebasan batin secara bersamaan. Sosialisme tanpa cinta dan kesadaran hanya akan menjadi tirani baru. Sebaliknya, sosialisme yang diperjuangkan oleh Che Guevara adalah jalan menuju manusia yang utuh: bebas secara ekonomi, namun juga bebas untuk mencintai, bekerja, dan hidup dalam solidaritas yang sejati.
Referensi:
- Ayat-Ayat Kiri, Hal. 63-72 (Vice Versa Books, 2019)
Penulis : Rifky Gimnastiar











