Kepemimpinan dalam Pergolakan: Antara Nilai dan Jabatan

Gmnstiar R.

Senin, 9 Juni 2025 - 20:28

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Nur Ayda (Ketua Rayon Raden Rahmat PK. PMII Universitas Ibrahimy Situbondo)

Jatim Aktual, Essai. Di tengah riuhnya panggung politik Indonesia yang semakin sarat dengan kepentingan, banalitas moral, dan politisasi agama, muncul satu pertanyaan mendasar: masih adakah pemimpin yang berdiri atas dasar nilai, bukan semata-mata karena jabatan? Masih adakah yang menjadikan Islam sebagai arah perjuangan, bukan sebagai alat legitimasi kekuasaan?

Kepemimpinan kerap direduksi menjadi soal transaksi elektoral dan popularitas. Banyak tokoh terjebak dalam narasi pragmatis, menjauh dari fondasi nilai. Kekuasaan menjadi tujuan, bukan amanah untuk menegakkan keadilan dan melayani rakyat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tahun 2025 turut didera skandal korupsi besar. Salah satu yang paling mencengangkan terjadi di Pertamina senilai Rp 193,7 triliun terkait pengelolaan minyak mentah antara 2018–2023 dan menyeret para petinggi perusahaan negara ke proses hukum. Sementara data KPK menunjukkan bahwa hingga Mei 2025, telah tercatat 1832 kasus penyelidikan dan 1292 eksekusi korupsi sejak tahun 2004, fakta ini menegaskan betapa korupsi masih mengakar kuat di setiap tingkatan pemerintahan.

BACA JUGA :  HUT Ke-76 Pomau, Satpom Lanud Rsn Gelar Turnamen Bola Voli, "Danlanud Cup"

Pilkada 2024 menunjukkan wajah buram demokrasi: setidaknya 138 calon kepala daerah terbukti terlibat kasus korupsi sebelum dilantik. Fakta ini memperlihatkan bagaimana sistem politik kita masih sarat dengan budaya transaksional dan korup dalam skala besar.

Dalam konteks ini, refleksi atas makna kepemimpinan menjadi kebutuhan moral yang mendesak. Terutama bagi kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), organisasi yang lahir pada 17 April 1960 bukan untuk mengejar kekuasaan, melainkan untuk mencetak pemimpin yang berpijak pada nilai-nilai Islam dan kebangsaan.

Sejak awal, PMII adalah kawah candradimuka bagi kader yang tak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga teguh dalam prinsip. Sosok seperti KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden RI ke-4, adalah contoh nyata kepemimpinan berbasis nilai—menolak politik identitas, mengedepankan kemanusiaan, pluralisme, dan keadilan sosial, meskipun harus menghadapi tekanan politik. Begitu pula KH. Said Aqil Siradj, mantan Ketua Umum PBNU yang konsisten menjaga Islam moderat dan menolak radikalisme.

“PMII adalah organisasi mahasiswa satu-satunya yang mengidentitaskan kalimat Islam dan Indonesia secara ekslusif pada penamaan. Kader PMII harus senantiasa berikhtiar untuk menjadi mahasiswa yang ber-islam dengan baik dan ber-indonesia yang benar” ~Rifky Gimnastiar

Namun di tengah godaan posisi, rayuan politik identitas, dan normalisasi korupsi, idealisme kader saat ini diuji habis-habisan. Nilai bukan romantisme masa lalu—ia adalah kompas moral yang menjadi suluh dalam setiap langkah hari ini dan esok.

BACA JUGA :  Bangun Kolaborasi Strategis, SMA Muhammadiyah 10 Gresik dan Fakultas Psikologi UMM Perkuat Layanan BK dan Pendidikan Karakter

Islam sebagai nilai dasar bukan sekadar ritual ibadah, tetapi sikap sosial: kejujuran, keadilan, dan keberpihakan pada yang lemah. Pemimpin yang berlandaskan nilai Islam tidak menjadikan agama sebagai alat politik, melainkan sebagai inspirasi kemanusiaan dan perubahan.

BACA JUGA :  Mahasiswa Bondowoso Demo Polres, Rifky Gimnastiar Teriakkan Dugaan Pemerasan Kanit Pidsus

PMII bukan tempat singgah kekuasaan. Ia adalah ruang tumbuhnya kesadaran, nilai, dan integritas. Kepemimpinan sejati tidak lahir dari ambisi, tetapi dari keberanian mempertahankan nilai dalam sunyi, meskipun arus sering melawan.

Di tengah kompleksitas realitas Indonesia, kepemimpinan yang menggabungkan keimanan, intelektualitas, dan keberanian moral adalah kebutuhan mendesak. Bagi kader PMII, itu berarti memperkuat kapasitas, menjaga integritas, dan menolak tunduk pada logika oportunisme.

Kepemimpinan berbasis nilai adalah benteng terakhir di tengah lunturnya etika publik. Ia bukan sekadar simbol struktural, tetapi energi perubahan yang menumbuhkan kesadaran kritis dan keberadaban sosial.

Menjadi kader PMII hari ini adalah menjadi penjaga nilai, pelaku perubahan, dan pemimpin masa depan. Bukan sekadar mengejar jabatan, tetapi memperjuangkan nilai. Sebab tanpa nilai, jabatan hanyalah jalan menuju kehancuran. Dan tanpa idealisme, kepemimpinan hanyalah alat sistem yang semakin korup dan kehilangan arah.

Penulis : Nur Ayda

Editor : Rifky Gimnastiar

Follow WhatsApp Channel jatimaktual.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tembus Pasar Global, BARON Grup Siapkan Ekspedisi Rokok Asia–Australia
Uji Sidang Tertutup Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Borobudur, Bamsoet Dorong Perubahan Regulasi Bagi Pengemudi Tranportasi Online
Khofifah Siap Ajukan KEK Tembakau Madura ke Pemerintah Pusat, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Madura
Absennya Gubernur Sulsel di Pelantikan KNPI Versi Fadel Perkuat Isu Dukungan ke Kubu Vonny Ameliani Suardi
Relawan Prabowo – Gibran Kawal Asta Cita di Sungai Aur, Soroti Hak Plasma Masyarakat Adat
Forum Kebangsaan Pimpinan MPR–DPR 1999–2024 Dorong Penguatan Civil Society dan Sinkronisasi Kerja Kabinet
Dua Pelajar SMA Muhammadiyah 10 GKB Gresik Raih Beasiswa Prestasi dari Gubernur Khofifah Indar Parawansa
Revitalisasi Sarana Pendidikan Jatim: 51 Sekolah Diresmikan Gubernur Khofifah
Kepemimpinan wanita dalam PMII mencerminkan semangat emansipasi dan kesetaraan dalam ruang perjuangan mahasiswa. Perempuan aktif mengambil peran strategis, baik sebagai penggerak organisasi maupun agen perubahan sosial. Mereka menunjukkan kapasitas intelektual, kepemimpinan yang visioner, dan keberanian menyuarakan keadilan. Dalam dinamika organisasi, perempuan tidak hanya pelengkap, tetapi menjadi penentu arah gerakan. PMII memberikan ruang bagi perempuan untuk tumbuh, memimpin, dan memberikan kontribusi nyata bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan. ~Rifky Gimnastiar

Berita Terkait

Rabu, 11 Maret 2026 - 13:12

Tembus Pasar Global, BARON Grup Siapkan Ekspedisi Rokok Asia–Australia

Selasa, 10 Maret 2026 - 16:48

Uji Sidang Tertutup Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Borobudur, Bamsoet Dorong Perubahan Regulasi Bagi Pengemudi Tranportasi Online

Selasa, 10 Maret 2026 - 16:03

Khofifah Siap Ajukan KEK Tembakau Madura ke Pemerintah Pusat, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Madura

Senin, 9 Maret 2026 - 21:03

Absennya Gubernur Sulsel di Pelantikan KNPI Versi Fadel Perkuat Isu Dukungan ke Kubu Vonny Ameliani Suardi

Senin, 9 Maret 2026 - 18:39

Relawan Prabowo – Gibran Kawal Asta Cita di Sungai Aur, Soroti Hak Plasma Masyarakat Adat

Berita Terbaru