Naturalisasi Atau Objektifikasi? Memandang Wacana Naturalisasi Dari Persepektif Kesetaraan Gender

Gmnstiar R.

Selasa, 11 Maret 2025 - 19:06

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Miftahul Jannah 

(Pengurus PMII Rayon Averroes)

Jatim Aktual, Bondowoso. Belum lama ini seorang musisi sekaligus anggota DPR menyinggung masalah naturalisasi dalam rapat komisi X DPR RI bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga serta PSSI. pernyataannya menuai sorotan tajam karena dianggap tidak relevan dan  merendahkan perempuan. Dalam argumennya, dia mengusulkan untuk

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

menaturalisasi pemain bola yang sudah diatas usia 40 tahun dan dinikahkan dengan perempuan Indonesia. Baginya anak dari pernikahan semacam ini bisa menjadi pemain sepak bola yang berkualitas. Bagaimana kesetaraan gender memandang hal tersebut? Lantas apakah perempuan hanya dijadikan alat?

BACA JUGA :  Kebijakan Tak Selaras Untaian Janji Manis

Pernyataan tersebut bukan hanya menunjukkan pola pikir patriarki namun juga menunjukkan objektifitasi perempuan yang masih kental dalam negeri ini.

Objektifikasi adalah memandang wanita sebagai objek atau alat semata,  bukan sebagai individu dengan hak dan pilihannya sendiri.

Objektifikasi perempuan adalah tindakan yang sangat mencerminkan kuatnya nilai patriaki.

Dalam wacana naturalisasi pemain sepak bola dengan pernikahan sebagai solusi. Perempuan seakan dilihat sebagai perantara agar proses tersebut lebih mudah. Pemikiran ini mencerminkan pandangan bahwa  perempuan bisa dimanfaatkan demi kepentingan lain.

Konsep ini berkaitan dengan mitos Hainuwele dari Maluku dalam mitologi Nusantara. Dalam kisah tersebut, Hainuwele adalah seorang perempuan yanv memiliki kemampuan mengeluarkan benda-benda berharga, tetapi ketika keberadaannya dianggap mengganggu, dia malah dibunuh. Keberadaannya hanya dimanfaatkan selama menguntungkan, tanpa dihargai sebagai individu.

BACA JUGA :  Mahasiswa UT Raih Juara Ajang Reels Challenge Modena Eco Week 2024

L

“Tubuh hainuwele terjebak dalam pola telekologis tertentu dimanipulasi demi suatu tujuan yang diinginkan.”

Penggalan ini menunjukkan bagaimana perempuan kerap kehilangan kendali atas kehidupannya sendiri.

Jika pola pikir ini masih terus dibiarkan maka akan menanamkan perspektif negatif terhadap perempuan, seolah perempuan hanya dijadikan sebagai sarana untuk mencapai kepentingan pribadi, tanpa memiliki hak atas dirinya sendiri.

BACA JUGA :  Diskusi Santai Kelompok Kaderisasi PMII Rayon Averroes: ''Aswaja Sebagai Manhajul Fikr"

Kesetaraan gender bukan hanya sekedar memberikan akses yang sama, namun juga bagaimana tentang menghormati perempuan dan memandangnya sebagai individu yang utuh.

We’re Somebody not Some Body!

Referensi :

Putri, K. A. Q., & Farha, A. (2022). Patriarki di Indonesia: Budaya yang Tak Kunjung Lekang. Diakses pada 9 Maret 2025, dari https://himiespa.feb.ugm.ac.id/patriarki-di-indonesia-budaya-yang-tak-kunjung-lekang/

Arivia, G. (2011). Merebut kembali kendali tubuh perempuan. Jurnal Perempuan, 71, 85-107.

Papadaki, E. (2020). Feminist perspectives on objectification. Stanford Encyclopedia of Philosophy. Diakses pada 9 Maret 2025, dari https://plato.stanford.edu/entries/feminism-objectification/

Follow WhatsApp Channel jatimaktual.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bangun Kolaborasi Strategis, SMA Muhammadiyah 10 Gresik dan Fakultas Psikologi UMM Perkuat Layanan BK dan Pendidikan Karakter
SMA Muhammadiyah 10 GKB Gresik Teken MoU dengan Politeknik Negeri Malang Dukung Karier Lulusan
Bahasa Indonesia di Persimpangan Zaman: Antara Identitas, Gengsi, dan Tantangan Global
Pembangkangan Konstitusi: Kudeta Sunyi atas Kedaulatan Rakyat
Madas di Persimpangan Etika: Darsam dan Batas Keberanian yang Hilang
Penyebab Utama Banjir di Tahun 2026: Peran Lingkungan dan Kesadaran Manusia
Bahasa Ibu di Ambang: Saat Bahasa Indonesia Baku Terus Menguat
Bahasa Indonesia di Era Digital: Antara Identitas dan Tantangan Zaman

Berita Terkait

Sabtu, 17 Januari 2026 - 15:01

Bangun Kolaborasi Strategis, SMA Muhammadiyah 10 Gresik dan Fakultas Psikologi UMM Perkuat Layanan BK dan Pendidikan Karakter

Sabtu, 17 Januari 2026 - 14:46

SMA Muhammadiyah 10 GKB Gresik Teken MoU dengan Politeknik Negeri Malang Dukung Karier Lulusan

Selasa, 13 Januari 2026 - 15:35

Bahasa Indonesia di Persimpangan Zaman: Antara Identitas, Gengsi, dan Tantangan Global

Selasa, 13 Januari 2026 - 15:00

Pembangkangan Konstitusi: Kudeta Sunyi atas Kedaulatan Rakyat

Selasa, 13 Januari 2026 - 14:57

Madas di Persimpangan Etika: Darsam dan Batas Keberanian yang Hilang

Berita Terbaru

Religi

Potret Momen Bersejarah

Selasa, 20 Jan 2026 - 05:34

Pendidikan

Mempelajari Ideologi Liberalisme

Senin, 19 Jan 2026 - 08:53