Oleh : Putri Raudhatul Jannah (Ketua KOPRI Komisariat Universitas Bondowoso)
Jatim Aktual, Opini- Dalam kurun waktu 1 bulan telah terjadi beberapa bencana alam banjir di Kabupaten Bondowoso. Hal ini disebabkan oleh cura hujan yang tinggi belakangan ini. Beberapa daerah seperti Desa Gunungsari, Kecamatan Maesan dan Desa Jebbung, Kecamatan Tlogosari terendam banjir. Bencana ini menyebabkan rusaknya sanitasi, rumah, hingga lahan pertanian warga.
Dilansir dari UN Women, perempuan dan anak-anak lebih berisiko mengalami cedera dan kematian ketika terjadi bencana alam. Ini disebabkan oleh konstruksi sosial yang menempatkan perempuan di wilayah-wilayah domestik seperti memasak, mencuci dan pekerjaan rumah lainnya. Selain itu perempuan dan anak-anak juga cenderung mengalami kesusahan ketika menyelamatkan diri saat terjadi musibah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Seperti Bencana banjir yang terjadi pada tanggal 9 Januari sore hari di Desa Gunungsari, Kecamatan Maesan yang Salah seorang korban nya adalah seorang Pekka (Pengganti Kepala Keluarga) yang hidup sebatang kara. Rumah, harta benda dan hewan ternaknya hanyut dibawa air, korban juga tidak sempat mengungsi karena air datang secara tiba-tiba membuat korban terjebak di area rumahnya. Warga setempat juga menceritakan bahwa salah seorang nenek yang rumahnya terdampak banjir juga tidak sempat mengevakuasi diri sehingga harus dibantu oleh tim SAR.
Tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di desa Gunungsari, Maesan, Bencana Banjir yang terjadi di Desa Jebbung, Kecamatan Tlogosari menyebabkan rusaknya pipa saluran air sehingga masyarakat kehilangan air bersih yang biasa digunakan sehari-hari. Ibu-ibu yang biasanya memasak dan mencuci dari air yang dialirkan ke pipa-pipa ke rumah jadi tidak bisa melakukan aktivitas sehari-harinya.
Hal serupa juga terjadi pada bencana Tsunami Aceh beberapa tahun silam tepatnya pada tahun 2004. Data menunjukkan sebanyak 55-70% korban meninggal adalah Perempuan. Kerentanan Perempuan terhadap bencana juga terjadi pada skala global. Mayoritas korban pada bencana gelombang panas di Prancis pada tahun 2003 adalah perempuan, pun demikian korban Badai Katrina di Amerika Serikat juga didominasi oleh perempuan.
Sebenarnya sejak 2014, BNPB (Badan Penanggulangan Bencana) telah mengeluarkan regulasi mengenai pengarustaamaan gender dalam hal penanggulangan bencana yang memuat penanggulangan bencana secara menyeluruh dari masa mitigasi (pra bencana), saat masa tanggap darurat, hingga pasca bencana. Namun yang terjadi adalah masih banyak celah yang menyebabkan banyaknya korban yang mendapat dampak saat terjadi bencana.
Studi yang dilakukan pasca Tsunami Aceh menunjukkan jumlah keterlibatan Perempuan dalam pelatihan Desa Tangguh Bencana (Destana) sudah diatas 30%, namun karena kultur yang tidak membiasakan perempuan berbicara di depan publik membuat mereka enggan untuk berbicara dan pendapat mereka pun jarang dianggap penting.
Berdasarkan beberapa kejadian berikut diperlukan strategi mitigasi/ penanggulangan bencana yang inklusi dan responsif gender. Semua kalangan baik laki-laki atau perempuan harus mendapat edukasi tentang penanggulangan bencana guna mendapatkan solusi dari segala permasalahan yang ada. Pemerintah pusat, daerah hingga masyarakat harus sama-sama berpartisipasi dalam proses penanggulangan bencana agar semua tercipta lingkungan yang aman dan resilient. Kesiap siagaan serta resiliensi menjadi krusial dalam membangun ketahanan sebuah komunitas guna mengurangi risiko kerugian yang mungkin terjadi di masa mendatang.










