TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

GILA Mengubah Presepsi Masyarakat terhadap Penderita Gangguan Jiwa

Avatar

Jatim Aktual, Artikel – Gangguan kejiwaan masih dianggap tabu oleh mayoritas masyarakat kita, salah satunya “depresi”. Depresi disini adalah kondisi medis bukan istilah yang sering digunakan oleh kebanyakan pengguna media social misalnya “Galau banget gue telat ambil diskonan, bikin orang depresi” atau juga pengguna twitter yang bercuit “Kayaknya aku udah mulai kena bipolar deh haluin dia terus”.

Namun kenyataannya tidak sesederhana itu, justru masih banyak orang yang merasa diganggu pikiran pikiran mendung yang tidak bisa selalu dijelaskan pemicunya seperti pikiran buruk, cemas, rasa tidak semangat menjalani hidup, tetapi enggan untuk menemui psikiater ataupun pihak yang berkompeten pada bidangnya.

Hal tersebut dipicu oleh pola pikir masyarakat baik terhadap gangguan psikis itu sendiri maupun pengobatan dan terapinya yang masih sangat minim.

Asumsi masyarakat akan topik kesehatan jiwa dan juga pengobatannya masih pada stigma yang sangat merugikan dinegara kita ini, karena masih identic dengan kata “GILA” masyarakat kita menganggap gangguan psikis berbeda dengan gangguan fisik seperti demam, sakit gigi, ataupun batuk pilek.

Gangguan psikis dianggap gangguan pada ranah jiwa atau roh yang tidak terlihat sehingga menyangkut pautkan dengan “diguna guna” atau “kerasukan” dan berakhir pada dukun ataupun ruqyah. Ketika dengan metode tersebut tak terbukti hasilnya (padahal memang bukan itu masalahnya) barulah berfikir dan memberanikan diri untuk menemui psikiater yang otomatis lingkungan sekitar penderita menjudge jika dia gila. Jikalau gila memang kenapa? Haruskah digunjing dan dijauhi? Padahal seseorang yang menderita gangguan jiwa ini sama halnya dengan seseorang yang terkena penyakit fisik.

Mereka sama sama sakit dan sama sama bisa sembuh dengan pengobatan. Masih banyak yang belum menyadari jika permasalahan psikis juga bisa berkaitan dengan organ tubuh dan reaksi kimia pada otak. Banyak penderita gangguan jiwa yang seharusnya sudah mendapat penanganan tetapi masih berdiam diri dan tak kunjung menemukan solusi.

Mereka merasa dihantui oleh presepsi masyarakat atau bahkan keluarga mengenai masalah ini. Jika hal ini dibiarkan begitu saja akan banyak pihak yang dirugikan, sesuatu yang seharusnya berjalan sesuai prosedur, mendapat pengobatan dan terapinya lalu segera membaik atau bahkan sembuh, justru tak mau menyadari atau bahkan menutup nutupi sehingga membuat keaadaan penderita semakin memburuk. Lantas apa peran lingkungan sekitar penderita? Apakan penderita gangguan jiwa membutuhkan peran orang orang sekitar untuk proses penyembuhannya? Jawabannya “iya”.

Peran orang orang sekitar sangatlah penting, penderita gangguan jiwa sangatlah membutuhkan dukungan dan pendampingan terlebih dukungan moral, mengingat presepsi masyarakat yang yang sangat miris terhadap fenomena ini. Penderita gangguan mental membutuhkan teman untuk bicara dan bercerita, agar dia tidak merasa sendiri dan memiliki semangat untuk sembuh.

Solusi apalagi yang bisa kita lakukan untuk masalah ini, yaitu mengubah presepsi masyarakat terhadap gangguan jiwa sekaligus pengobatan dan terapinya. Kita harus lebih aware terhadap hal medis yang menyangkut permasalahan kejiwaan ini, karena hakikatnya sesoarang yang sakit pasti ingin sembuh. Nah jalan yang benar yaitu mempelajari lebih lanjut gejala gejala yang dirasa dan berkonsultasi kepada pihak yang berkompeten pada bidangnya, mengikuti seluruh rangkaian pengobatan dan terapinya.

Bahkan saat ini mulai terdapat komunitas komunitas mental health, tetapi ingat kita harus pintar pintar mengikuti komunitas semacam itu karena juga banyak komunitas yang sifatnya eksploitasi. Diluar itu jika kita pintar dalam memilih dan memilah juga masih banyak komunitas komunitas yang sportif dan membantu, salah satunya komunitas “pasti.id”.

Komunitas ini berawal dari tugas mata kuliah beberapa mahasiswa UI, setelah membentuk pasti.id dan mendapat nilai dari dosen penganmpu mata kuliah tersebut selesailah proyek itu, tetapi terdapat satu anggota yang ternyata pernah mengalami gangguan psikis dan dari pengalaman pribadinya itu, ia ingin melanjutnkan proyek tugas kuliahnya yang tak lain komunitas pasti.id untuk terus dikelola dan dikembangkan.

Setelah mengantongi izin dari teman teman sekelompoknya dia mengetuai komunitas itu dan berkembang hingga saat ini. Untuk penyandang gangguan psikis ini sendiri bisa lebih membuka diri dan banyak sharing untuk segera menemukan jalan keluar dari segala keluh kesah yang dirasakan.

Oleh : Uvina Binafi’atil Ilmi
Mahasiswa Universitas KH Mukhtar Syafa’at