TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Minoritas di dalam Minoritas

Avatar

Jatim Aktual, Artikel – Agama merupaka sistem, atau tata kaidah yang berhubungan erat dengan proses spiritual manusia, agama adalah alat komunikasi seorang manusia terhadap tuhan pemilik alam semesta, menjadikan sistem yang mengatur peribadatan dan kepercayaan kepada tuhan.

Diindonesia agama sudah menjadi bagian terpenting dalam menjalani kehidupan. Dengan populasi 273 juta lebih penduduk di indonesa mayoritas mennganut suatu agama yang juga menjadi bukti tertulis didalam kartu tanda penduduk.
Agama menjadi hal yang wajib bagi seluruh warga Indonesia, hal ini juga tertulis dalam UUD 1945 pasal 28E ayat 1 yang berbunyi “ setiap warga negara bebas memeluk agama dan beribadah sesuai agamanya”. Inttegritas beragama tentunya sudah muncul sejak kita baru dilahirkan, dimana setiap keturunan dari berbagai suku, ras, budaya diindonesia tentu mengikuti garis keturunannya?;’. hal ini juga dikuatkan dengan adanya sila pertama dalam Pancasila yaitu “ ketuhanan yang maha esa”.
Selama ini yang kita ketahui ada 6 (enam) agama yang diakui di Indonesia yaitu, Islam, Kristen protestan, Kristen katolik, Budha, konghucu, dan Hindu. Namun demikian masih banyak ajaran agama yang masih belum diakui atau sudah diakui namun bebrapa kelompok masih menganggapnya illegal.
Adalah Saksi-saksi Yehuwa. Di Indonesia masih banyak sekali yang belum mengetahui bahkan terdengar sangat asing sekali di telinga, ajaran dengan berlandaskan Alkitab, Saksi Yehuwa masuk ke nusantara sejak tahun 1930-an. Bermula dari datangnya seorang imigran asal Australia yang membawa ajaran saksi-saksi yehuwa, sebelum akhirnya tercatat di kementrian agama pada 22 maret 2002. Namun sebelumnya pada tahun 1975 aktivitas Saksi-Saksi Yehuwa begitu mereka manamai kelompok mereka sempat dilarang. Mereka dianggap memuat ajaran yang bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku, seperti mereka menolak untuk berpolitik, dan juga menolak hormat bendera.
Pada 2016 lalu tercatat jumlah pengikut mereka sudah mencapai 26.000 diindonesia. Saksi Yehuwa memiliki ajaran yang tidak sama dengan Kristen, memang mereka mempercayai silsilah dengan berlandaskan kitab yang sama yaitu Alkitab, namun mereka berupaya untuk mengikuti kepercayaan sesuai apa yang yesus ajarkan dan apa yang dilakukan para rasul terdahulu. Saksi Yehuwa mempercayai Alkitab bahwa Yehuwa adalah satu-satunya ALLAH yang mengatur segala urusan.
Di Indonesia, penyebaran mereka terbilang cukup luas hingga tersebar hampir di seluruh nusantara. Saksi Yehuwa menyebut para penganut mereka dengan sebutan hadirin. Dan dengan kegigihan para hadirin inilah akhirnya mereka dapat mengikuti semua kagiatan peribadatan ditengan mayoritas agama-agama besar.
Pada tahun 2023, di banyuwangi sudah mulai terlihat pesatnya perkembangan saksi yehuwa. Dimana sudah tercatat sekitar 100 hadirin yang ikut andil dalam pengembangannya, kisah Saksi-Saksi Yehuwa dimulai dari sebuah rumah keluarga di daerah kota banyuwangi, rumah minimalis milik salah satu hadirin yang dipakai untuk agenda peribadatan. Semua hadirin akan berkumpul di ‘balai pertemuan’ (mereka menyebutnya) tanpa memandang ras, suku, dan budaya. Pertemuan mereka diadakan setiap dua kali dalam seminggu yaitu pada hari rabu dan hari sabtu. Tempat pertemuan mereka tidak hanya terletak di kota banyuwangi, namun juga terdapat di kecamatan bangorejo, kabupaten banyuwangi.
Sering kali muncul sebuah pertanyaan. Mengapa tidak membangun tempat ibadah yang semestinya?. Sebenarnya bukan tanpa alasan, jika dibalikkan sebuah pertanyaan siapa sih yang tidak ingin membangun sebuah tempat ibadah yang nyaman?.
Jika Islam memiliki masjid sebagai tempat ibadah dan Kristen memiliki Gereja, tentu saksi Yehuwa juga punya Balai Kerajaan namun dikota-kota yang terbilang sudah banyak pengikutnya seperti DKI Jakarta dan Jawa Barat. Kemudian di banyuwangi sendiri mereka masih menggunakan istilah Balai Pertemuan karena fasilitas yang masih belum lengkap untuk melakukan peribadatan.
Selain karena faktor tersebut beberapa hadirin saksi yehuwa juga sering kali mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan dari para oknum orang luar, sehingga membuat mereka merasa menjadi minoritas yang di minor kan. Padahal mereka adalah manusia yang sama, yang juga memiliki hak untuk memperjuangkan apa yang mereka anggap benar. Mereka juga menegaskan bahwa pihaknya sudah kooperatif dengan aturan yang telah ditetapkan pemerintah republik Indonesia.
Tetapi seiring berjalannya waktu perjalanan saksi saksi yehuwa khususnya di banyuwangi semakin membaik, hubungan antar umat beragama yang dapat hidup berdampingan tanpa adanya suatu gesekan membuat hadirin saksi yehuwa nyaman untuk melaksanakan peribadatan yang mereka dambakan. Saksi yehuwa yang notabene nya memiliki tempat ibadah ditengan pemukiman masyarakat juga sama sekali tidak merasa terganggu oleh adanya aktivitas lain begitu pula bagi masyarakat sekitar.
Dalam hal ini kita sama- sama yakin bahwa indahnya hidup dengan penuh toleransi sangat amat dibutuhkan, karena selamanya kita tidak akan bisa hidup hanya dengan satu kelompok saja, akan ada masanya kita akan hidup berdamingan dengan kelompok-kelomok baru yang tentunya sangat membutuhkan hidup bertoleransi, memanusiakan manusia selayaknya tanpa memandanng status dan gelar yang mereka miliki, merangkul kaum minoritas dengan tangan selebar-lebarnya tanpa membeda-beda kan ras, adat, suku, juga agama. Karena sejatinya setiap manusia memiliki seperangkat hak yang sama dalam mengarungi kehidupan.

BIOGRAFI
Nama : Muhammad Aziz Rifqian
Status : Mahasiswa
Prodi : Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia
Lembaga : Universitas Bakti Indonesia