TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Lewat Jalur Dalam, Skill Dibuang

Avatar

Jatim Aktual, Artikel – Seperti yang kita ketahui, bahwasanya dalam mendapatkan sebuah pekerjaan adalah hal yang sangat  diharapkan oleh setiap orang, guna memiliki sebuah penghasilan baik untuk dirinya sendiri ataupun keluarganya. Sebuah kebutuhan dan kewajiban adalah perkara yang mengharuskan setiap orang untuk memiliki sebuah pekerjaan dan penghasilan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah angka pengangguran di Indonesia mencapai 7,2 juta orang dipenghujung Februari 2024 tahun ini. Jumlah tersebut masih terbilang sangat tinggi meskipun sudah berkurang sekitar 9.89% dibandingkan pada bulan Februari tahun 2023 lalu. Dengan tingginya jumlah pengangguran tersebut dapat dihimbau 12% diantaranya adalah seorang lulusan sarjana dan diploma, belum lagi yang hanya memiliki sertifikat kompetensi ataupun lulusan SMK/SMA yang belum dikatahui jumlah pastinya, karena hal inilah timbul sebuah pertanyaan:

“Apakah skill masih dibutuhkan di dunia kerja?”

Pertanyaan di atas bukan tanpa alasan, karena pada kenyataannya banyak lulusan sarjana, di ploma, dan pelatihan bersertifikat merasa bahwa yang mereka lakukan selama ini adalah sebuah hal sia-sia saja. Seperti kuliah, belajar, beroganisasi dan melatih kemampuan dalam bidang tertentu, karena pada kenyataannya mereka sangat sulit dalam menerima kesempatan untuk menerapkan ilmu ataupun kemampuan yang telah mereka dapat dan pelajari dengan susah payah selama ini.

Mengapa hal itu dapat terjadi?

Pemikiran seperti itu dapat ditimbulkan dari beberapa hal, diantaranya adalah sulitnya mendapatkan sebuah pekerjaan yang disebabkan oleh beberapa faktor yang sangat meresahkan bagi sebagian orang yang sedang mencari sebuah pekerjaan dengan mengandalkan kemampuan yang mereka miliki. Mungkin hal ini tidak begitu berpengaruh terhadap semua orang yang kiranya memiliki keuangan yang baik dikeluarga dan juga memiliki koneksi atau biasa kita kenal dengan sebutan Orang Dalam.

Sudah menjadi rahasia umum bahwasanya lowongan pekerjaan atau penerimaan pegawai dijadikan ladang pencari dan kepentingan pribadi bagi oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, inilah yang menyebabkan sulitnya mencari pekerjaan bagi orang-orang yang hanya mengandalkan skill dan kemampuan mereka saja, hal ini dapat terjadi karena kebanyakan dari mereka akan gagal dibagian administrasi tanpa sempat membuktikan skill dan kemampuan mereka, bahkan terkadang setelah kita diberi kesempatan menunjukkan skill, hal itu hanyalah dijadikan sebuah formalitas belaka karena disisi lain sudah tersedia oknum-oknum yang memiliki kepentingan pribadi untuk meloloskan orang-orang dekatnya entah itu karena segi materi ataupun suatu hubungan tertentu.

Hal inilah yang menjadi faktor turunnya rasa optimisme mereka yang tidak memiliki koneksi tidak sehat tersebut, dari situlah timbul rasa kekecewaan seseorang yang sedang melamar sebuah pekerjaan. Dan karena hal itu pula jumlah nilai pengangguran di Indonesia melunjak tinggi. Secara tidak langsung faktor tersebut menanamkan rasa pesimis khususnya orang yang hanya berbekal skill dan kemampuan saja.

Prilaku suap-menyuap di Indonesia tanpa disadari juga sudah menjadi hal yang sangat lumrah kita dengar dan tentunya sangat tersimpan rapat pada oknum yang bersangkutan.

Mungkin saja hal diatas tidak berlaku bagi perusahaan-perusahaan besar ataupun perusahaan Eropa namun problem lain yang timbul disaat hendak mendaftarkan diri ke perusahaan besar adalah dibutuhkannya sebuah pengalaman kerja, paling sedikit waktu pengalaman tersebut adalah dua tahun. Sedangkan perusahaan yang menerima fresh graduate besar kemungkinan diisi oleh orang-orang yang memiliki koneksi dan tidak takut melakukan tindakan suap-menyuap.

Faktor ini pula yang menyebabkan turunnya keinginan anak-anak muda untuk menempu jenjang perkuliahan ataupun mengikuti program-program pelatihan peningkatan skill bersertifikat nasional maupun internasional, yang menyebabkan lambatnya perkembangan wawasan dan tingkat kreativitas pemuda Indonesia serta menurunnya kesadaran tentang bahayanya suap-menyuap.

Lalu apa yang yang harus dilakukan untuk untuk menanggapi hal tersebut?

Seperti yang kita tahu mencegah itu lebih baik dari pada mengobati, mungkin hal ini lah yang sekarang perlu ditekankan kembali kepada calon-calon penerus masa depan bangsa, Seperti menanamkan nilai-nilai kejujuran, disiplin dan tanggung jawab, serta mengajarkan lebih dalam tentang halal dan haram, benar dan salah, serta hak dan kewajiban. Bahwasanya semua yang kita lakukan akan dipertanggung jawabkan dihadapan Sang Pencipta.

Namun bagaimana dengan yang sekarang yang sudah terlanjur terkena dampak dari sistem yang tidak sehat  tersebut?  Ada beberapa hal yang harus diingat dan dipahami adalah segala sesuatu khususnya rezeki telah diatur oleh Allah SWT, tugas kita hanyalah berusaha. Jadi janganlah sekali-kali kita merasa putus asa, dan merasa apa yang telah kita lakukan sia-sia. Dengan ilmu dan kemampuan yang telah kita peroleh dapat kita manfaatkan untuk diri sendiri maupun orang lain.

Seperti contoh bagi lulusan teknik mungkin kita dapat membuka usaha perbaikan atau bahkan menciptakan alat-alat yang secara tidak langsung membantu problem-problem masyarakat sekitar, atau lulusan pertanian dengan ilmu yang dimiliki akan sangat membantu khususnya untuk para petani, karena sebagian besar masyarakat Indonesia adalah petani.

Oleh sebab itu mengeluh dan putus asa bukanlah solusi dari suatu masalah, karena masih ada banyak inovasi ataupun kreatifitas yang harus terus digali.

 

Siti Munfaizzah

Mahasiswi Tadris/Pendidikan Bahasa Indonesia

UNIVERSITAS KH.MUHKTAR SYAFAAT BAYUWANGI