Sarasehan Dolanan Anak Dan Ketahanan Bangsa Digelar Dalam Rangka Festival Padhang Jingglang Di Ngglothan

Avatar

 

Jatim Aktual Tulungagung – Acara Sarasehan dalam rangkaian Festival Padhang Njingglang ke 8 th 12 dalam masa khidmahnya, sekaligus melaksanakan kegiatan Pameran Kenduri Rupa Bahagia salah satu kegiatan November Art Progress (NAP) 5 yang berdedikasi menjadikan November sebagai bulan kesenirupaan di Tulungagung.

Hampir 200 peserta dari Mahasiswa, pelajar SMK, para seniman dan budayawan Tulungagung hadir dalam kegiatan ini yang bertempat di Sanggar Karawitan Ngesthi Laras Ngglotan kabupaten Tulungagung, sabtu (26/11/2022).

Sebelum sarasehan, diawali dengan tahlil dan dzikir jamai serta kirim doa kepada alm Romo Sudjinal seniman pendiri Ngesthi Laras juga kirim doa kepada alm mbah Widji Paminto Rahayu yang wafat saat malam tahun baru Islam Muharom 1444 H, Mulyono guru seni SMP, alm Maryoko pelukis kaca dan seniman foto mas Jimmy.

Usai acara Dzikir Jamaiy, terdengar khusyuk dan syahdu, terlantun pula doa yang unik “Allohumma yaa robbana cukupono luberono beras akeh duit akeh kanggo ngaji lungo haji barokahe Nabi Wali ” yang diijazahkan oleh Abina KH Muh. Ihya Ulumiddin pengasuh Mahad Nuril Haromain Pujon Malang.

Akhirnya, dimulailah acara Sarasehan. Tema yang diangkat adalah “Dolanan Anak dan Ketahanan Bangsa,” dimoderatori Anang Prasetyo, ia mengajak para peserta menyanyikan doa untuk bapak ibu dan tembang Padhang Mbulan, sebagai wujud aplikasi Sesanti Jawa digawa, Arab digarap, Barat diruwat.

Sekaligus menekankan dan menggaris bawahi bahwa antara kebenaran dan kebaikan dalam wilayah agama, sejatinya dan sudah seyogyanya mengarahkan keindahan dalam wilayah seni dan budaya ke dalam satu kesatuan utuh yang padu.

Terintegrasi, tawhidi, mengesa dan menyatu padu dalam harmoni dan keadilan ilmu yang beradab,;Sebab karakter budaya bangsa Indonesia, spirit dan ruhnya peradaban adalah satu kesatuan yang manunggal, sekaligus menunjukkan agama, etika, seni dan budaya merupakan satu bingkai yang tidak terpisahkan.

Sebagaimana karakter seni dan agama dalam world view barat yang bersifat dualisme dan sekularisme yaitu memisahkan agama dan ilmu pengetahuan pada dua kutub yang berseberangan.
Islam sebagai din (agama) dan tamaddun (peradaban) adalah satu kesatuan utuh terpadu, bersifat tawhidi.

Sarasehan diawali dengan “dongeng” oleh
Bambang Kardjono mantan kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tulungagung menyebut presentasi dengan istilah dongeng.

Lebih lanjut kata Bambang mengawali kisahnya, Bangsa kita khususnya Tulungagung yang sudah berusia 817 th seharusnya terus mewarisi kejayaan leluhurnya dahulu. Lawadan dengan Kadang Taninya di daerah Wates Kroya menjadi kunci pendamai perang antara Tumapel dan Kediri.

Predikat Tulungagung sebagai kota “Cethe” perlu kita renungi, mengingat tradisi gambar ” nyethe” dengan media ampas kopi dan puntung rokok sejatinya adalah ” pelarian ” dari budaya batik tulis yang kalah diterjang arus batik printing. Perlu perjuangan untuk mengembalikan ikon Tulungagung sebagai kota Batik yang pernah dinobatkan oleh Bung Karno waktu itu.

Bambang mengusulkan adanya acara Batik massal, syukur- syukur bisa mencetak rekor MURI untuk membangkitakan kembali spirit Batik Tulungagung. Lanjut Bambang menceritakan peran Mbah Mansur sebagai tokoh yang mampu mengatasi banjir di Tulungagung dan juga ahli tata kota.

Semua sejarah yang beliau sampaikan kepada audien yang hadir adalah pemompaan semangat pada generasi muda agar mengenal sejarah ,mensyukuri anugerah warisan budaya leluhur dan kewajiban merawat dan menjaga kemulyaan Bangsa Indonesia ini.

Menurut Hari Yuwono pemilik Joglo Balai Soehartini yang berada dalam kompleks Lotus Garden Tulungagung, menyampaikan Taushiyah Kebudayaannya, dimana belakangan ini marak pula agenda kegiatan seni dan kebudayaan.

Ia mengawalinya dengan aspek ketahanan nasional, unsur ekonomi, politik, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan nasional merupakan pilar ketahanan bangsa. Dari unsur- unsur tersebut mengerucut pada bidang seni dan budaya yang merupakan sub dari ketahanan SosBud.

Seorang pelukis juga harus ” jujur” menorehkan entuk dan warna- warna di atas kanvasnya.

Namun, melalui cerita Beliau tentang sayembara seorang Raja yang cacat matanya dan memanggil para perupa untuk melukisnya.
Hari Yuwono menggarisbawahi bahwa di atas kejujuran ada juga prinsip ” ketepatan” ,” empan papan” ,” bener tur pener” menjadi bukti keadiluhungan budaya kita, khususny Jawa.

Pemateri berikutnya adalah Esti Lailatul Faizah. Salah satu pembina di KOMPAN Komunitas Padhang Njingglang memberikan pencerahannya.

Ummi Esti panggilan akrabnya, menyampaikan paparannya dengan memberi contoh pada beberapa aspek budaya tradisional berupa makanan- makanan dan juga dolanan anak, Esti menegaskan anugerah keunggulan budaya kita dalam menitipkan nilai- nilai moral melalui budayanya.

Setiap makanan dan dolanan menyimbolkan keutamaan nilai- nilai hidup yang harus diamalkan dalam hidup bermasyarakat.

Esti selanjutnya juga menyinggung akulturasi yang indah antar unsur- unsur budaya, bahkan juga dengan penyempurnasn nilai- nilai agama Islam ke dalam budaya kita.

Prinsip *”di atas syariat ada adab”* tampak sejalan dengan prinsip *”bener tur pener”* dalam falsafah Jawa.

Di akhir narasinya Esti menyampaikan bahwa kesatuan entitas sebagai seorang Indonesia, seorang Jawa dan seorang Muslim adalah sebagai sebuah keniscayaan yang harmoni.

Dengan memberi contoh pada beberapa aspek budaya tradisional berupa makanan- makanan dan juga dolanan anak, Esti menegaskan anugerah keunggulan budaya kita dalam menitipkan nilai- nilai moral melalui budayanya.
Setiap makanan dan dolanan menyimbolkan keutamaan nilai- nilai hidup yang harus diamalkan dalam hidup bermasyarakat.

Esti juga menyinggung akulturasi yang indah antar unsur- unsur budaya, bahkan juga dengan penyempurnaan nilai- nilai agama Islam ke dalam budaya nasional Indonesia.
Prinsip “di atas syariat ada adap” tampak sejalan dengan prinsip “bener tur pener” dalam falsafah Jawa.

Di akhir narasinya Ia menyampaikan bahwa kesatuan entitas sebagai seorang Indonesia, seorang Jawa dan seorang Muslim adalah sebagai sebuah keniscayaan yang harmonis.

Sebelum pemotongan tumpeng, Ki Wawan Susetya, ahli sastra Jawa yang bukunya mencapai ratusan judul buku itu, memaparkan perbedaan antara tumpeng dan ambeng. Jika tumpeng maknanya mengerucut kepada kerajaan. Sementara ambeng, lebih egaliter. Kekuasaannya merata.

Diakhir acara, Bapa Harry Yuwono yang pernah mengemban amanah di Lemhanas, dipersilakan moderator untuk memotong tumpeng tanda ulang tahun Komunitas Padhang Njingglang ke 12, serya ulang tahun Ngesthi Laras serta sekaligus ulang tahun ke 5 perhelatan NAP November Art progress dalam bidang kesenirupaan.

Acara puncak yaitu melukis bersama dengan iringan gamelan Ngesthi Laras pimpinan Ki Handoko.

Suasana yang syahdu dan merdu mendampingi pelukis Anang Prasetyo dan murid-muridnya sebanyak seratusan lebih menorehkan cat di kanvas. Sebagian lagi melukis di atas kain 10 meter. Dilukis secara bersama – sama.

Inilah kebahagiaan yang hakiki. Bahwa antara ilmu cipto, roso dan karso berada dalam satu bingkai dan narasi seni rupa dan musik Jawa.(Sug/Est/AP)