NGEMBAK GENI HARI RAYA NYEPI, APAKAH MEMULAI DARI API ATAU MENCARI AIR

Avatar

Jembrana – Pagi hari, saat fajar mulai menyingsing, sehari setelah melaksanakan Catur Beratha hari raya Nyepi, bagi umat Hindu khususnya di Provinsi Bali, akan melaksanakan hari Gembak Geni.

Geni berarti Api, api adalah panas, dan panas ini adalah energi. Hingga disini, umat Hindu meyakini, api ini adalah simbul kekuatan yang merupakan esensi dari Dewa Brahma sebagai Pencipta, atau awal dari kehidupan.

Maka dari sini, sebagian umat Hindu di Bali, akan memulai api yang disimbulkan sebagai awal dari berjalannya kehidupan, memunculkan tradisi Nyakan Diwang.

Nyakan Diwang ini artinya memasak di luar. Di sini, umat secara bersama sama, akan memulai melakukan aktifitas dengan memasak di pinggir jalan depan rumah masing masing, sebagai tanda mulai berjalannya api kehidupan.

BACA JUGA :  Resuffle Kabinet Penting Perkuat Pulihkan Ekonomi, Wacana Tunda Pemilu/Presiden Tiga Periode Sudah Selesai

Di Bali sendiri, banyak memiliki tradisi unik yang digelar saat perayaan Ngembak Geni. Seperti diantaranya, Mabuwug Buwugan di Kedonganan, Nyakan Diwang di Buleleng, ataupun Omed Omedan di Denpasar. Ketiga tradisi tersebut mempunyai tujuan yang sama, yaitu mengucapkan rasa syukur dengan keyakinan dan cara yang berlainan.

Berbeda dengan sebagian umat lagi, dimana umat akan memanfaatkan pantai sebagai sasaran Ngembak Geni. Disini, artinya umat akan mencari air dan mandi di pantai dalam kontek melakukan pembersihan diri, atau yang di Bali dikenal dengan istilah Malukat.

Jadi mana yang benar, apakah memulai dengan api di saat ngembak geni, atau mencari air.

BACA JUGA :  Diakhir Jabatan, Bupati Kampar Sampaikan LKPJ Tahun 2021

Saat ditanyakan kepada Jro Mangku Suardana, salah seorang Pemangku di Pura Dangkayangan Rambutsiwi, ia membenarkan semua kegiatan di atas.

Menurutnya, semua kegiatan yang dilakukan itu adalah berdasar keyakinan, dan tradisi untuk menyambut datangnya hari di tahun baru saka ini.

Lebih lanjut dijelaskan Jro Mangku Suar, pria yang ternyata adalah Purna Muda Intelijen TNI, yang kini menjabat sebagai Direktur Media C N N dan Pes Nasional, juga sebagai Sabha Walaka di PHDI Kabupaten Jembrana, serta yang dikenal sebagai satu-satunya penulis Buku Tatwa Liak Hakekat Lingga Aksara di Bali ini menjelaskan. Dalam keyakinan agama Hindu, api, air dan udara adalah kesatuan utama dalam ajaran Tri Murti.

BACA JUGA :  Kompolnas Puji Orasi Kapolri saat May Day : Bentuk Pengakuan Negara Atas Peran Buruh

“Dengan air yang telah dijadikan Tirtha, para Sulinggih akan memulai membakar atau memeralina jenazah umat. Maka api bisa menjadi sama fungsi dengan air, demikian juga sebaliknya. Inilah konteks Yadnya bagi umat Hindu. Disini, perlu penjelasan khusus untuk memahaminya”, jelas Jro Mangku Suar.

Apakah akan memulai kehidupan dari api, baru kemudian mencari air dan udara sebagai manfaat kehidupan, menurutnya ini semua benar, karena tiga unsur ini sesungguhnya adalah satu kesatuan. Semua tergantung dari diri, maka mulailah dari kepercayaan diri pribadi yang diyakini paling tepat, atau individu masing masing.

“Om Anobadrah Kratevo Yantu Visvatah”, semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru.

Penulis : Siswantara & Wijana