News  

Aktivis Demo Dugaan Pungli BOP, BOS dan Fee Proyek 25 Persen di Disdikbud Pamekasan

Avatar
Dear Jatim saat demonstrasi di kantor dinas pendidikan dan kebudayaan (Disdikbud) Pamekasan. Rabu, (08/09/2021).

PAMEKASAN. Puluhan aktivis yang tergabung dalam Dewan Energi Aspirasi Rakyat Jawa Timur (Dear Jatim) melakukan aksi demonstrasi ke kantor dinas pendidikan dan kebudayaan (Disdikbud) Pamekasan. Rabu, (08/09/2021).

Demo tersebut berkaitan dengan adanya dugaan pungutan liar (Pungli) terkait Biaya Operasional Pendidikan (BOP) dan dana alokasi khusus (DAK) fisik untuk pendidikan pada tahun 2021.

Koordinator aksi Junaidi Kowwek menyebutkan, tercium aroma dugaan pemotongan pada bantuan BOP, BOS dan pemberian fee proyek sebesar 25 persen dari rekanan untuk satu kontrak kerja.

BACA JUGA :  bank bjb Kolaborasi dengan Taspen Kelola JHT, Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian

Dari dana BOP, ada dugaan pemotongan 10 persen untuk satu lembaga, sementara untuk bantuan BOS sebesar 2 juta untuk satu lembaga pendidikan.

“Dana bantuan pendidikan BOP dan BOS untuk kesejahteraan pendidikan, tidak untuk kesejahteraan oknum,” teriaknya dalam orasinya di depan kantor Disdikbud.

BACA JUGA :  48 Kafilah Kota Surabaya Siap Ikuti MTQ XXIX di Pamekasan

Demo desakan pemberantasan mafia pendidikan tersebut berlangsung cukup lama. Satu persatu peserta aksi menyampaikan orasinya.

Para demonstran mendesak, agar bisa bertemu dan berdiskusi langsung dengan pemangku kebijakan di Disdikbud Pamekasan.

Dalam demonstrasi tersebut, Kepala Disdikbud Pamekasan Akhmad Zaini tidak menemui. Peserta aksi ditemui oleh Akh. Rifai yang merupakan Kabid Pendidikan SMP Disdikbud Pamekasan dan Fatimatus Zahrah Kabid Pendidikan SD.

BACA JUGA :  Sulistyo Widodo Temui Panitia Turnamen Bola Volly Ramadhan Cup 2 Untuk Berikan Bantuan

“Pak kadis sedang perjalanan dinas dan tidak bisa menemui,” kata Akh. Rifai saat menemui masa aksi.

Usai demontrasi, Akh. Rifai enggan memberikan komentar dan keterangan terhadap beberapa wartawan. Bahkan, pihaknya menghindari saat ditemui awak media.